Sabtu, 20 Agustus 2011

Saat Roda-roda Merasa Cemburu

"Roda kehidupan selalu berputar", begitu kata orang. Tidak hanya roda kehidupan, aku adalah roda sepeda yang juga selalu berputar. Bersama dengan rekanku, aku membantu pemilik sepeda untuk bergerak di atas sepedanya dengan rasa gembira. Sesekali jalanan terjal, sesekali bergelombang, tak dapat diprediksikan. Siapa yang mampu memprediksikan kondisi jalanan? Tidak ada, semua rahasia Tuhan.

Satu masa, aku berpisah dengan rekan pertamaku, kemudian bertemu dengan rekan kerja yang kedua, dan yang ketiga. Kami lah sepasang roda yang membantu jalannya sebuah sepeda. Pergantian rekanan terkadang menjadi hal yang biasa meski perpisahan kerap menggoreskan luka.

Suatu ketika saat aku bersama partner rodaku yang lama, sepeda kami bertemu dengan sepeda lainnya. Kami berjumpa dengan roda-roda lainnya. Tahu, hanya sekedar tahu. Roda itu bersama roda ini bekerja sama dalam satu waktu. Tak disangka, ketika roda ketiga yang menjadi pasanganku dipindahkan, aku sendirian. Sepedaku tak lagi berjalan di jalan raya. Belum ada roda pengganti yang dipasangkan denganku untuk bekerja sama. Lama tak terkira. Beberapa kali pemilik sepeda berusaha menghadirkan roda-roda lainnya, tidak sesuai rupanya. Hingga datang sebuah roda yang pernah kukenal. Roda yang saat itu aku berpapasan dengannya.

Roda itu, ternyata dia akhirnya yang dipasangkan denganku. Malu-malu, kami mulai berkompromi tentang cara kami berputar. Agar seirama, agar membentuk harmoni roda sepeda yang mempesona.

Sesekali waktu saat kami berputar bersama di jalan raya, kami temui mereka, roda-roda lama yang pernah menjadi rekan kami di bawah sebuah sepeda. Cemburu! Itu namanya. Kulihat bayang masa lalu roda yang kini menjadi rekanku berusaha bersama dengan roda ini dan roda itu melintasi jalan raya. Sakit. Angin di rodaku berkurang. Aku merasa lelah. Pemilik sepedaku menyadarinya dan segera memompa.

Saat aku di pompa, pemilikku sering berkata, "Tegar, kuat, dan sabar rodaku. Jangan beratkan laju sepeda ini karena sakitmu. Bekerja samalah dengan baik dengan roda yang satu. Tak lihat kah engkau? Saat kau tak berjalan dengan kondisi prima, begitu juga dia. Berat baginya berjuang sendirian. Berat baginya menanggung beban sepeda ini, berat lagi karena dia harus menarikmu untuk sampai ke tempat memompa sepeda. Kuat lah rodaku, jaga hatimu". Pemilik sepeda tahu, aku cemburu. Malu.

Kubuka mataku, kulihat rekan rodaku di depanku. Dia adalah roda depan sepeda ini, memandangku dengan tatapan emas, khawatir aku mengalami luka parah sehingga harus diganti dengan roda yang lainnya. Sekilas adegan lama. Kuingat saat kami melintasi jalan bersama, bahagia. Kami tertawa sambil berputar, mengikuti ke arah mana sepeda berjalan. Menikmati semilir angin yang sama, menikmati percikan air di genangan. Cih! Aku merepotkannya, dia yang berarti bagiku. Jalan lama telah terganti dengan yang baru, tak ada waktu untuk cemburu. Roda kehidupan berputar bersama kami, menantang kami untuk berani berlaga menopang sepeda ini. Hari ini hingga nanti.

Minggu, 12 Juni 2011

Kasih-Nya Melalui Kamu


"Tuhan ada di dalam manusia-Nya".

Sepenggal kalimat yang pernah saya dengar dalam sebuah kitab.

"Tuhan berada sangat dekat, sedekat urat nadi di lehermu".


Begitu juga kalimat yang saya dengar selanjutnya.

"Jika Tuhan memang dekat, di manakah Dia? Bagaimanakah wujud-Nya?"

Dia lah Dzat yang ghaib.. Tak terlihat tetapi dapat dirasakan keberadaan-Nya. Mengimani-Nya memerlukan kecerdasan tingkat atas. Seperti yang diutarakan Piaget, dalam tahapan perkembangan kognitif tingkat paling atas dari perkembangan kognitif manusia adalah kemampuan berpikir abstrak. Tuhan adalah Dzat yang abstrak (ghaib). Tak dapat disentuh, tak dapat dilihat, tak dapat dicium, tak dapat didengar ataupun diraba. Tuhan ada jika kita merasa. Maka dapat saya tarik kesimpulan, Tuhan ada bagi mereka yang berakal dan mampu menyadari keberadaan-Nya.

Mengetahui keberadaan Tuhan ternyata sangat mudah. Baru-baru ini saya menyadarinya. Baiklah, dapat dikatakan saya cukup terlambat untuk menyadari keberadaan Tuhan diantara manusia. Saya memerlukan 22 tahun mencari-Nya. Baru kemudian beberapa hari yang lalu saya menemukan betapa Tuhan sangat dekat dengan saya.

Begini ceritanya..

Suatu hari saya membaca dalam sebuah buku -maaf saya lupa buku yg mana- bahwa salah satu tugas manusia adalah merepresentasikan keberadaan Tuhan. Saya pikir betul juga. Tuhan saya Yang Abstrak dapat "terwujud" di dunia yang nyata ini dengan perantara manusia. perilaku manusia yang mengikuti ajaran Tuhan akan menunjukkan perilaku Tuhan. misalnya saja ketika kita memberi kepada sesama. Ingatkan? Tuhan memiliki sifat Pengasih dan Penyayang, maka dari manusia yang memberi itulah kegemaran Tuhan "terwujudkan". Ketika kita berlaku adil kepada manusia yang lain, perilaku kita "mewujudkan" sifat Tuhan Yang Maha Adil. Dan lain-lainnya..

Bentuk abstrak dari Yang Abstrak adalah kasih Tuhan.
Lalu, bagaimana kita merasakannya?

Ini lah yang salah satu bentuk yang saya temukan..
Melalui dia, seorang laki-laki biasa yang sebenarnya tidak banyak berbeda dengan lelaki pada umumnya, saya merasakan kasih Tuhan. Melalui laki-laki yang kuat dan lembut disaat yang sama inilah saya merasa kasih Tuhan dipresentasikan dengan baik -saya tidak mengatakan dengan sempurna. Laki-laki ini tidak pernah saya prediksikan untuk dapat menjadi yang istimewa, tetapi ternyata laki-laki inilah yang dapat membuat saya lupa bahwa di dunia ini ada lebih dari seratus juta laki-laki lainnya. Melalui laki-laki ini, saya melihat kasih-Nya dan keajaiban-Nya.

Tujuh tahun lalu, kami hanya mengenal nama. Membayangkan berteman saja tidak apa lagi dapat berbagi kehidupan yang sama. Dia hanyalah salah seorang teman sekelas di tempat saya mengikuti suatu bimbingan belajar tambahan. Singkat cerita, dua bulan yang lalu entah mengapa dia meminta kontak saya. Pun jika ditelusuri jejaknya, kami tidak banyak melakukan interaksi dua arah. Sebatas tahu. Ya, itulah cara kerja Tuhan yang ajaib, cara kerja mistis yang tidak dapat direkayasa manusia. Kami berkenalan -mungkin secara resmi kami mulai saling mengenal pada titik ini- dan mulai berbincang. Obrolan ringan, seputar perkuliahan dan masa depan. Mengalir cepat melalui bebatuan terjal. Saling menahan rasa karena ada yang mulai tidak biasa. Bercanda, tertawa, berbagi kegalauan dan kebimbangan tentang rahasia suatu masa di sana. Banyak hal yang ternyata sama. Kebiasaan mengulang menonton film, rencana menikah di usia muda, rancang bangun suatu keluarga, jenis minuman bersoda dan cara meminumnya, dan terakhir ternyata kami memiliki jenis sepatu yang sama.

Satu kesepakatan, merapikan masa lalu kemudian datang saat sendirian. Satu bulan setelah berkenalan -ulang- kami berikrar. Dengan cara tidak biasa kami memulai semuanya. Saya duduk di kamar di depan laptop, dan begitu juga dia. Ketidaksengajaan yang disengaja Tuhan terjadi lagi, malam itu kami sama-sama berpakaian warna merah tanpa ada kompromi sebelumnya. Ikrar sederhana untuk mulai saling menjaga hingga saat yang besar tiba. Saya dan dia berubah menjadi "kita".

Sungai malas mengalirkan airnya yang jernih, satu bulan bersama banyak kenangan yang mulai menjadi pupuk dari benih kasih -inilah yang kemudian saya rasakan sebagai kasih Tuhan.

Tuhan sangat menyayangi saya sehingga tidak menginginkan saya sendirian. Tuhan mengirimkan dia melalui sebuah kesengajaan yang dirahasiakan. Kedatangannya membawa rasa syukur yang begitu besar, sebesar rasa syukur saya atas ijin Tuhan untuk nyawa yang masih disematkan. Kedatangan laki-laki ini seperti perwalian dari Tuhan yang menginginkan umat-nya dijaga dengan baik, mendapatkan kasih sayang yang lembut, mendapat pengertian, perhatian dan rasa dihargai, dengan kata lain mendapatkan kecukupan akan pemenuhan kebutuhan manusiawi. Tentunya dia menunjukkan dengan cara manusianya yang sederhana yang masih penuh keterbatasan jika dibandingkan dengan Kuasa-Nya.

Tuhan mempercayakan kepada saya seorang laki-laki yang tulus -tanpa tendensi apa-apa- memberikan rasa sayang kepada saya dan selalu berusaha menjaga saya dengan caranya. Tuhan begitu mengasihi saya sehingga mempertemukan dengannya yang bersedia mendengarkan saya disaat suka maupun duka, seremeh apapun suatu cerita yang saya punya. Tidak lupa, Tuhan juga menguatkan saya dan dia dengan menjaga kami berdua di tempat yang berbeda.

Melalui kamu, Stevan Chondro Suryono, saya merasa bahwa kasih Tuhan itu nyata.

"Sehalus dan seringan kapas putih yang menyelubungiku, itulah pancaran kasih Tuhan melalui kamu".


Sabtu, 14 Mei 2011

Kisah Kasih Pohon Mangga

Sebuah pohon mangga berdiri tegak.

Pohon Mangga sudah digariskan Tuhan.
Bahwa ia akan mengerluarkan buah bernama "Mangga".
Semenjak kecil hingga menjadi besar, mangga-mangga itu membutuhkan waktu.
Waktu tertentu dalam hitungan kalender dunia Mangga.
Waktu yang tidak sebentar, tetapi tidak lama jika dilalui dengan sabar.

Kisah ini diandaikan manusia yang menunggu besar dan manisnya buah Mangga.
Diberi pupuk dan air untuk pohonnya, dirawat dengan baik buahnya dari segala hama.
Menanti waktunya tiba untuk memetiknya dan merasakan manis daging buahnya.

Seperti aku menunggumu..
Bertemu, di kala Tuhan berkata "iya".

Sabtu, 16 April 2011

Baju Yang Menunggu

Ribuan baju ditawarkan di bumi ini. Namun, hanya ada satu baju yang ingin ku pakai hingga ujung waktu nanti. Sayangnya baju itu ditawarkan bukan di saat yang tepat. Aku terlalu kecil untuk mengenakannya. Walau begitu, aku tak ingin melewatkan baju itu. Maka aku simpan baju indah yang baru untuk sementara waktu, ku simpan dengan rapi di dalam almari. Agar suatu ketika nanti aku bisa bersatu dan berbagi. Mulai hari ini kepada Tuhan aku memohon, semoga suatu saat aku akan dapat mengenakannya. Dikenakan dengan indah sehingga ia dapat melekat denganku. Melindungiku setiap waktu, bergerak seirama dengan tubuhku. Menari, melenggang, dan melompat sepanjang sisa hidupku. Baju, dapatkah kau berdoa bersamaku? Mintalah kepada Tuhan agar suatu ketika kita dapat bersatu.

Rabu, 13 April 2011

Top of The World

Such a feelin’s comin’ over me

There is wonder in most everything I see

Not a cloud in the sky

Got the sun in my eyes

And I won’t be surprised if it’s a dream



Everything I want the world to be

Is now coming true especially for me

And the reason is clear

It’s because you are here

You’re the nearest thing to heaven that I’ve seen



(*) I’m on the top of the world lookin’ down on creation

And the only explanation I can find

Is the love that I’ve found ever since you’ve been around

Your love’s put me at the top of the world



Something in the wind has learned my name

And it’s tellin’ me that things are not the same

In the leaves on the trees and the touch of the breeze

There’s a pleasin’ sense of happiness for me



There is only one wish on my mind

When this day is through I hope that I will find

That tomorrow will be just the same for you and me

All I need will be mine if you are here



**Lagu ini dipakai dalam film Shrek Forever After. Lagu yang menjadi backsound saat Shrek merasa bisa menjadi dirinya sendiri. Kesannya sangat ringan dan sangat bahagia. :)

Rabu, 30 Maret 2011

Kebangkitan

Terbangun dari tidur panjang dan menyadari bahwa penyesalan sudah dirasa cukup.
Saatnya bangun dan bergerak.
Berjalan maju, mendewasakan logika dan afeksi.

Kamis, 30 Desember 2010

Penemuan: Dia di Dalam Aku

"Kita putus"

Sebuah kalimat yang membuatku terdiam, terkejut hingga tak mampu bereaksi. Sebuah perdebatan kecil melalui pesan singkat berubah menjadi sebuah pelatuk yang mencetuskan sebuah eksekusi pengakhiran. Beberapa menit kemudian, setelah semua syaraf kembali bekerja, aku tersadar, semua berakhir.

Beberapa hari aku hidup bagai zombie, zombie yang tak memiliki ruh, zombie yang tak memiliki rasa. Aku mati rasa, jiwaku pergi. Aku hanya bisa menangis, menangis karena aku tahu seharusnya aku bersedih. Aku hanya tahu bahwa aku seharusnya bersedih. Tak dapat merasa.

Bertepatan dengan peristiwa itu, ibuku harus di rawat di rumah sakit. Lengkap. Makin aku mati rasa.

Aku hanya sendiri, setiap siang dan malam hari menyusuri lorong sepi rumah sakit itu. Aku menemani ibuku, aku harap ibuku segera pulang. Mungkin lebih tepatnya, ragaku menemani ibuku.

Tidak ada kabar darinya. Tidak ada tanda-tanda kedatangannya. Aku sendiri.

Sesekali teman-temanku datang menjenguk ibuku. Hatiku mulai bisa merasa, mereka memberiku rasa. Tetapi sayangnya rasa itu tidak bertahan lama, hanya bertahan sekejap lalu hilang. Aku mencarinya, mencari orangku satu-satunya. Dia tetap tidak ada. Hanya sesekali ku dapat pesan singkat darinya. Hal itu tidak membuatku lebih baik. Aku tidak sekedar membutuhkan pesan singkat.

Sering aku menahan tangisku di depan ibuku, yang kemudian menyebabkan suaraku sedikit menghilang. Dalam istilah psikologi hal itu disebut hysterical aphoni (tidak mampu berbicara keras dan suara berbisik). Hal itu merupakan dampak dari represi yang aku lakukan. Dampak berikutnya adalah somatisasi. Somatisasi adalah bentuk gangguan kecemasan yang tidak begitu jelas karena dimunculkan dalam bentuk keluhan fisik.

Ternyata aku lemah, aku tidak sekuat yang aku kira.

Aku selalu ingin merasa kuat dengan berkata kepada diriku sendiri, "Sya, kamu ngga apa-apa lho. Kamu kuat. Kamu bisa". Tapi ternyata tidak. Aku tidak kuat dan aku belum bisa. Aku membutuhkan waktu untuk berduka. Berduka karena kehilangan seorang lelaki dari hidupku. Aku membutuhkan masa berkabung.

Mungkin bukan karena "putus"nya lalu aku bersedih, namun lebih kepada "takut kehilangan". Aku takut sendiri, aku bukan jenis manusia yang mudah dekat secara emosi dengan orang lain, maka dari itu, aku takut kehilangan dia. Dia yang merupakan orangku satu-satunya. Orang yang aku perbolehkan melihatku sampai ruang terburukku. Dia yang di depannya aku tidak menggunakan lapisan catku.

Berminggu-minggu berlalu. Secara berlebihan aku dapat mengatakan bahwa dunia ini terasa hampa. Terus merasa sepi walau berada dalam keramaian. Senyum dan tawaku hanya terbias dari bibirku, tak terpancar di mataku. Aku lah, Isya si Zombie.

Aku lelah. Lelah mengeluh pada teman-temanku. Aku tahu mereka mempunyai segudang aktivitas yang lebih berharga daripada hanya mendengarkan ceritaku yang itu-itu saja. Aku juga tidak mau terus-terusan berkubang dalam lubang hitam. Aku harus bangkit.

Ketika itulah, setelah aku membuat keputusan itu, aku tersadar.
Dalam suatu sujudku, aku menemukan-Nya.

Allah tidak pernah tidur. Allah adalah satu-satunya tempatku bersandar. Allah tempatku bisa menceritakan semua perasaanku. Dan hanya Allah yang tahu benar bagaimana perasaanku, Dia memahamiku lebih dari siapapun.

Tapi di mana Allah? Aku tak dapat melihat-Nya.

Aku berdoa lagi dan kemudian dalam sujudku yang selanjutnya aku teringat, Allah ada sangat dekat denganku. Allah berada di dalamku. Lebih dekat dari siapapun yang berada di sampingku. Allah tidak pernah beranjak sedetik pun dari diriku. Dia selalu melihatku, mengawasiku, dan menungguku untuk bercerita kepada-Nya. Ya, aku menemukannya, aku menemukan yang aku cari. Aku menemukan Dia yang selalu bisa menerima diriku apa adanya, yang selalu mau mendengarkan ceritaku tak perduli berapa kali aku mengulangnya, tak perduli seberapa membosankannya ceritaku, dan pada-Nya aku tak perlu malu. Dia-lah Tuhanku satu-satunya.

Ternyata, ketika aku tak dapat melihat-Nya, itu bukan berarti Dia tak ada. Aku hanya perlu merasakan-Nya. Merasakan keberadaan-Nya yang lebih dekat dari apa pun. Merasakannya dengan kepercayaanku. Dia yang selalu menjagaku 24 jam/hari setiap tahunnya dalam setiap nafas yang ku hirup.

Kepada-Nya aku dapat memohon apa pun yang aku mau, kepada-Nya aku tak perlu malu menceritakan semua rahasiaku, dan Kepada-Nya aku tak perlu takut kehilangan.

Dari-Nya aku mendapat kekuatan, dari-Nya aku mendapat kesembuhan dan dari-Nya aku mendapatkan janji abadi yang tidak mungkin diingkari.

Ketika aku bersungguh-sungguh memohon, ketika yang ku mohonkan adalah hal yang baik bagiku menurut-Nya, maka Allah akan mengabulkan doaku di suatu waktu.

Allah, terima kasih Engkau bersedia ada untukku. Bersedia tetap tinggal untuk mendengarkanku walau aku sangat sering melupakan-Mu. Terima kasih, Ya Allah.


Kesimpulannya: mulai dari hari ini dan seterusnya, hal-hal yang harus ku lakukan hanyalah:

Berdoa, Percaya dan Bersabar menanti kejaiban dari-Nya.

Selasa, 16 November 2010

Sepasang Mata dari Dunia Tanpa Rasa


Seorang gadis dari suku bangsa kulit putih, kita sebut saja namanya Khan. Khan? Ya, dia gadis dengan ciri-ciri yang mirip seperti Khan dalam film My Name Is Khan.


Khan ini didiagnosis mengalami autisme sejak masih kecil. Saat ini Khan tinggal di sebuah asrama milik seorang ibu pemberi terapi autis. Khan datang ke Yogyakarta ketika ia berada di kelas 3 SD dan saat ini Khan sudah duduk di kelas 2 SMP, di sebuah SMP untuk anak bukan luar biasa. Khan adalah seorang gadis yang berasal dari sebuah pulau terbesar di Indonesia.


Saya terenyuh melihat Khan. Menurut saya, semua tingkah laku Khan, baik verbal mau pun non verbal adalah tingkah laku yang datar. Intonasi suaranya, gerakan tangannya, bahkan tatapan matanya. Semua datar, tidak tampak adanya bukit, gunung atau pun jurang. Rata.


Ketika saya tersenyum, dia hanya memandangnya. Kosong, tidak tampak suatu perasaan apapun dimatanya. Ketika Ibu Walinya bercanda, dia tetap memandang kosong. Khan hanya menimpali candaan itu dengan datar.


Saya hanya bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana dunia yang dijalani oleh Khan? Dunia remaja yang biasanya dipenuhi canda tawa khas remaja yang nampak disikapinya dengan datar.


Menurut sebuah artikel yang saya baca, penderita autis ringan yang dikenal dengan nama Asperger Syndrom ini memang mengalami hambatan dalam mengenal ekspresi afeksi orang lain dan mengekspresikan afeksinya sendiri. Dia tak sepenuhnya mengerti arti tawa, senyum, marah dan perubahan intonasi suara.


Inilah dunia Khan. Saya hanya menuliskan dari apa yang saya amati, hal-hal kasat mata yang dapat saya lihat. Darinya saya mengerti arti penting sebuah quote "Mata adalah jendela jiwa". Dari mata, terpancar perasaan atau afeksi yang dirasakan seseorang. Namun bagaimana dengan Khan? Apakah matanya yang kosong ketika memandang seseorang merupakan indikasi kehampaan dan kesepiannya dari sentuhan afeksi?


Maka bersyukurlah saya ketika melihat ke arah cermin dan melihat sepasang mata yang memandang balik kepada saya. Sepasang mata yang masih memiliki jiwa.





kekayaan rasa terpancar melalui mata

Selasa, 09 November 2010

Manusia Selang Air

Kau lihat selang air di sana? Berdiri tegak dengan kepala menengadah ke atas. Berjalan dengan pongah seolah makhluk paling gagah.



-----------



Hei, selang air, tak lihatkah ada manusia lain di sekitarmu?

Tundukkanlah sedikit kepalamu, berilah salam hormat dan sapaan hangat kepada mereka yang kau lihat.



Selang air, tak dapatkah kau menunduk sedikit saja?

Apakah gerangan yang kau lihat di atas sana?

Apa yang kau cari di langit tanpa batas itu?

Tak ingatkah kau pada bumi?



Selang air, mereka menyapamu, mereka memberimu sebuah senyum tulus yang membentuk sudut lengkung di wajah mereka.

Berikanlah balasan darimu.

Sentuh mereka dengan hangatnya tawa candamu.



Oh,, selang air.

Siapa pun dirimu kini, kau tetap manusia.

Kau sama dengan dengan mereka.

Menunduklah..



Selang air!

Kemana perginya sopan santunmu?

Ada manusia yang lebih tua pun tak kau perdulikan keberadaannya.

Apakah sebegitu beratnya menggerakkan mulutmu itu untuk berbicara?

Sebegitu mahalnyakah harga sebuah kata dari bibirmu yang berwarna?

Selang air, menunduklah..



Selang air, tidakkah kau diberikan pelajaran budi pekerti?

Ayah dan Ibumu bertanya, kau diam.

Gurumu memberi salam, kau diam.

Teman-temanmu meberikan senyum, kau diam.



Selang air, mau jadi apa kau nantinya?

Tak kau hiraukan lagi keberadaan orang lain selain dirimu.

Kemana perginya seluruh sopan santun dan ramah tamah yang dulu kau miliki.

Mengapa semua tiba-tiba bersembunyi?

Ingatlah, dengan menghormati orang lain, maka kau akan dihormati pula, hargailah orang lain, dan kau akan dihormati juga oleh mereka.



Pikirkan tindakanmu, selang air.

Jangan kau merasa paling hebat dan paling pandai.

Merendahlah.

Ketika kau merendah, orang lainlah yang akan meninggikanmu, namun ketika kau meninggikan dirimu, orang lain akan merendahkanmu.



Sebarkan lah rasa kasihmu, selang air.

Bagikan tawa riang dan senda guraumu pada mereka.

Tak usahlah semua hal kau hitung dengan kotak ajaibmu yang berisi tombol operasi matematika.

Karena sebenarnya, kau tak akan pernah mampu mengkalkulasikan sebuah nilai dalam hidup ini, yaitu "nilai keberadaanmu".

Jumat, 05 November 2010

Kata Merapi

"Hallo, Jogja.. Selamat Pagi? Apa kabarmu, teman lama? Hehe.. Maaf, aku baru saja terbangun dari tidurku. Oya, bagaimana abu vulkanikku? Sudah diterima kan?


"Apa?"


"Tidak Jogja, aku tidak marah. Aku bukan sedang mengamuk.."


"Hah? Korban? Maaf soal itu, aku sudah berusaha sebisaku untuk memberi tanda-tanda pada mereka. Tapi mereka terlalu menyayangiku. Mereka mengira bahwa aku sedang marah, jadi mereka berusaha menenangkan aku. Aku juga menyayangkan kepergian mereka yang katanya karena aku. Tapi sungguh, Jogja, aku tak bermaksud begitu. Kita sudah berkawan lama kan?"


"Yah, mungkin ini keterbatasanku sebagai sebuah gunung, aku tak dapat bebicara dan memaparkan semua rencanaku. Tapi, andai kau tau, Jogja. Rencanaku ini merupakan rencana jangka panjang, lho. Lebih panjang dari REPELITA. Aku merencanakan sesuatu yang besar bagi generasi-generasi mendatang. Bukan hanya generasimu, Jogja, tetapi generasi mendatang di seluruh dunia."


"Jangan marah, Jogja. Jangan kau berburuk sangka padaku. Dengarkan dulu rencanaku."


"Begini awalnya. beberapa waktu lalu, kawan lama kita, Puting Beliung mengunjungiku. Dia bercerita bahwa beberapa waktu yang lalu ketika aku masih tertidur, dia berjalan-jalan beberapa kali melintasi Pulau Jawa. Katanya, baru sebentar dia melintas, pohon-pohon bertumbangan, ada yang dahan-dahannya patah dan ada juga yang tercabut hingga akar-akarnya. Asumsi dari Puting Beliung adalah karena pohon-pohon mulai bosan berada di sini. Mereka tak lagi mendapat cukup makanan dari tanah. Mereka sedikit kecewa pada hujan, karena belum sampai sampah-sampah daun berubah menjadi humus, sampah-sampah itu sudah tersapu oleh airnya. Belum lagi lahan hidup mereka semakin sempit karena terdesak oleh pesatnya pembangunan di kotamu. Mereka tidak lagi memiliki banyak teman sepepohonan."


"Lalu, Puting Beliung pergi menemui Laut. Dia bertanya, mengapa Laut memproduksi terlalu banyak uap air sehingga hujan turun berkepanjangan. Kata Laut, terlalu banyak sinar matahari yang mengubah air laut menjadi uap air dan kemudian membentuk awan. Dn turunlah hujan. Saat Puting Beliung berjalan-jalan, dia mendengar istilah 'global warming'. Kata mereka, hal itu lah yang menyebabkan kenaikan suhu di Bumi dan secara tidak langsung hal itu juga yang mebuat banyak hujan terjadi di dunia."


"Lalu aku berdiskusi dengan Puting Beliung. Aku berpikir, bagaimana caranya menhijaukan Bumi ini lagi sehingga dampak dari 'global warming' dapat dikurangi. Aku mengerjapkan mata dan melihat beberapa pendudukmu sedang mengkampanyekan suatu gerakan penghijauan bertajuk 'go green'. Aku mendapatkan ide dari hal itu. Lalu kususunlah sebuah rencana 'go green' sebaik mungkin untuk membantu menyukseskan kampanye mereka."


"Tunggu, Jogja. Jangan terburu-buru. Dengarkan baik-baik. Begini rencananya. Pertama-tama aku akan mengeluarkan abu vulkanikku yang memiliki zat hara untuk menyuburkan tanah, aku harap, tanah di Bumi ini akan subur. Dalam hal ini, aku juga sudah bekerjasama dengan Angin. Aku memintanya untuk mendistribusikan abu vulkanikku ke tempat-tempat yang mampu dia jangkau. Aku juga sudah membujuk Laut untuk menciptakan hujan. Hujan akan membantu dalam proses penyerapan mineral-mineral alamiku, sekaligus membersihkan kotamu yang tampak putih dari atas sini. Lambat laun, tanah-tanahmu akan kembali subur, aku harap akan banyak pepohonan yang menyukainya. Aku harap mereka mau mengerti dan mau bertahan ketika Puting Beliung berkunjung lagi. Yah, ini semacam sogokan bagi mereka agar mereka tetap mau bertahan hidup di kotamu, Jogja."


"Apa tumbal?! Hei, kau tahu aku tidak memakan manusia atau ternak kan? Aku menyayangi mereka. Sudah kukatakan kepadamu bahwa aku sudah memberi peringatan sebelumnya. Namun mereka tidak mengerti maksudku. Aku tak pernah bermaksud mengorbankan manusia-manusia itu, dan ternak-ternak itu."


"Baiklah, maaf aku tidak sengaja. Tapi, aku juga sudah berdoa pada Tuhanku Pemilik Serdadu Malaikat. Aku memohon kepada-Nya untuk mengantarkan ruh dari korban-korban itu ke tempat terindah di sisi-Nya. Aku juga berdoa, semoga ternak-ternak yang meninggal itu dapat dihitung sebagai kurban dari pemiliknya. Semoga nantinya para ternak dapat menjadi tunggangan pemiliknya ketika mereka berada di Padang Masyar. Aku benar-benar minta maaf, Jogja. Aku juga berduka."


"Oya! Untuk pepohonan yang rusak, aku sudah berdoa juga pada-Nya, agar dari bekas mereka itu, ditumbuhkannya beraneka ragam tumbuhan-tumbuhan baru yang lebih hebat. Tumbuh-tumbuhan yang mampu menghijaukan dunia ini, mampu memproduksi leboh banyak Oksigen untuk kebutuhan pernafasan manusia yang jumlahnya semakin banyak."


"Begitulah rencanaku, Jogja. Memang masih lama sekali hal tersebut terjadi, namun aku harap kau dan pendudukmu mampu bersabar menunggu hingga keajaiban itu terjadi."


"Ya, aku tahu, mungkin generasi sekarang tak memiliki waktu yang cukup panjang untuk melihat hal itu terjadi. Tapi tenang saja, Jogja. Aku sudah menyediakan hadiah kecil yang lain. Tak lihatkah kau sungai-sungaimu mengalirkan lahar dinginku? Itu hadiahku untuk jangka waktu dekat ini, Jogja. Aku memberikan beberapa bahan dasar untuk pembangunan di kotamu. Aku juga ingin ikut aktif terlibat dalam hiruk pikuk perkembangan manusia menuju masa yang lebih baik, tentunya."


"Sekali lagi aku minta maaf, sobat lama. Dan maaf juga kalau beberapa waktu aku terbatuk terlalu keras sehingga membuat panik seluruh pendudukmu. Saat itu aku tersedak sesuatu, lalu aku terbatuk terlalu kuat. Maaf ya. Aku benar-benar tidak punya maksud buruk padamu, saudaraku."


"Tidak, tidak perlu berterima kasih. Aku ikhlas melakukan semuanya. Semoga bermanfaat ya."


"Sampai kapan?"


"Em,, aku belum tahu pasti. Aku rasa sesegera mungkin. Jika aku sudah mendapat kabar dari Angin tentang pendistribusian abu vulkanikku. Tunggulah, kawan. Sebentar lagi, dan setelah itu aku akan tertidur lagi. Tertidur untuk mempersiapkan masa bangunku di waktu yang akan datang. Aku berharap, ketika aku terbangun lagi, aku melakukan segala sesuatunya dengan cara yang lebih baik lagi."


"Terima kasih untuk seluruh pengertianmu, kawan. Sampaikan terima kasihku kepada pendudukmu yang menjadi relawan dan pendudukmu yang secara tulus membantu proses evakuasi pengungsi, terima kasih juga pada pendudukmu yang terus memantau keadaanku. Tolong yakinkan kepada mereka kalau aku akan segera mereda. Sampaikan pada pendudukmu yang kehilangan saudara dan keluarga, bahwa aku tidak sengaja dan aku turut berduka cita sedalam-dalamnya."


"Terima kasih, kawan. Terima kasih untuk kesedianmu mendengarkanku dan menyampaikan pesan-pesanku. Tunggulah beberapa saat lagi, aku akan berhenti, semua aman terkendali, perekonomianmu bangkit lagi dan jumlah wisatawanmu akan meningkat drastis bagaikan dalam mimpi."


"Uahmm.. Lihat, aku mulai mengantuk, Jogja, kawan dan sahabat lamaku. Sampai jumpa lagi di lain waktu ya."


"Terima kasih banyak atas kesabaranmu."




"Bersabarlah.."