Sabtu, 17 April 2010

Terdiam Di Sudut

Ku letakkan foto keluarga kecil yang masih lengkap itu di sudut kamarku.

Seperti yang ku lakukan terhadap hatiku.


Ku letakkan semuanya di sudut hatiku.


Agar aku dapat terus menatap ke depan dan maju melangkah menyambut perubahan.


Layaknya perluasan kota, ini hanyalah perluasan sebuah keluarga.

Sabtu, 03 April 2010

Salah Aku Ingin Berteman Denganmu?

"Permisi? Boleh saya masuk?"

Ku lontarkan salamku sebelum aku memasuki rumah bercahaya kuning itu. Ku tunggu beberapa saat dan ku ulangi salamku.

"Hallo, Assalamu 'alaikum.. Saya boleh masuk ya??"

Tak ada jawaban yang dimaksudkan untukku. Hanya suara keras yang mendengung-dengung di indera pendengaranku yang sebenarnya tidak ku ketahui artinya. Mungkin itu adalah jawaban dari pemilik rumah.

Aku memasuki rumah super besar yang berisi kotak-kotak berwarna cokelat berukuran besar yang mungkin adalah kursi ruang tamu. Dengan kekuatan kecerdasan super yang ku miliki, aku bermaksud duduk di kursi dan menunggu si pemilik rumah untuk berbincang. Aku tertarik untuk berkenalan dengan mereka. Aku sedng mulai mengira-ira berapa lompatan yang aku butuhkan untuk mencapai puncak kursi tersebut saat tiba-tiba suara yang sangat keras terdengar. Aku pun menoleh seketika, mencoba menerka arti perkataan dari suara itu.
Dan, aku pun melihat seorang gadis berbaju putih dengan pola bunga ungu memandang lurus ke arahku. Dia terus mengeluarkan suara, suara yang tak ku mengerti artinya.

Ketika aku sedang memikirkan artinya, aku melihat seorang wanita yang lebih tua dengan baju putih dan celana jeans biru memandangku dan seketika itu dia menyodokku dengan batang-batang panjang berwarna orange. Mungkin benda ini semacam sapu. Karena merasa tergelitik, aku pun melompat, berusa duduk di atas kursi untuk segera mengutarakan maksud kedatanganku. Namun, wanita yang membawa sapu itu terus menggelitikku, menekan bagian tubuhku, aku mulai kesakitan. Maka segera saja aku melompat. Wanita itu terus mendorongku dengan sapu. Aku terpojok. Maka dengan jurus ninja yang telah ku pelajari selama 1 tahun terakhir kemarin, aku segera saja memusatkan cakra ke kaki-kakiku dan memenjat tembok putih rumah itu.

Hup..hup..hup..

Dengan beberapa lompatan besar, aku segera berada di ketinggian. Aku rasa jarak ini cukup untuk menghindari sapu yang masih berusa diarahkan wanita berbaju putih itu kepadaku. Aku tak habis pikir, mengapa dia tega melakukannya padaku. Mungkin aku harus bicara.

"Aku hanya ingin berkenalan. Aku tidak bermaksud jahat. Aku baru saja menempuh perjalanan panjang dan kebetulan aku tertarik dengan rumah kalian. Please, jangan sakiti aku"

Aku sangat berharap mereka mengerti perkataanku. Aku tahu mereka tidak bermaksud jahat, mereka hanya terkejut melihatku yang tiba-tiba datang bertamu. Mereka terdiam.

"Berhasil. Mereka mengerti apa yang ku katakan".

Wut..wut..wut..

Suara ayunan sapu terdengar keras di telingaku. Mereka tidak mengerti. Mereka tidak tahu apa maksud kedatanganku. Lebih baik aku pergi.

Hup!!

Dengan sekali lompatan aku segera saja sampai di lantai rumah itu lagi. Namun, mereka sekali lagi hanya bersuara sangat keras. Keras sekali sehingga aku harus segera menutup kedua telingaku. Kulit hijau mulusku segera saja merinding karena teriakkan kedua yang lebih keras ketika aku melompat menjauhi gagang sapu yang terus mengayun ke arahku.

"Mereka benar-benar tidak mengerti aku. Aku hanya ingin menambah teman."

Aku sedih. Aku bersedih mengapa kami harus dipisahkan oleh perbedaan pemahaman bahasa. Andai saja mereka mengerti apa yang ku katakan dan aku juga tahu apa yang mereka katakan, tentunya kami dapat berteman.

Aku terus melompat menghindari sapu dan terus berusaha mencari jalan keluar. Tentu saja kedua wanita tadi tetap bersuara-suara keras yang artinya tidak jelas. Hanya seperti teriakan ketakutan.

"Apa yang mereka takutkan ya? Aku? Mengapa?"

Aku terus berpikir sambil melompat. Dan tiba-tiba..

Syuuutttt....

Aku terpeleset di sebuah lantai licin berair berwarna sama dengan badanku. Hijau yang damai. Namun warna kedamaian ini pun, tidak mampu menghentikan hujaman sapu yang diarahkan kepadaku.

"Oh, sial! aku terjepit!!"

Aku terjepit sapu yang rupa-rupanya telah berpindah tangan ke seorang lelaki kuat yang berpakaian warna hitam. Aku tak bisa bergerak. Aku tak tahu apa yang dimauinya.

"Pak, saya hanya ingin berkenalan. Tidak ada maksud jahat."

Andai saja mereka mengerti. Andai saja bahasa kami sama. Andai saja aku juga berukuran besar.

"Oh, Tuhan,, Apakah salah jika aku ingin berteman dengan mereka? Bukankah mereka juga makhluk ciptaan-Mu, Tuhan?"

Kresekk.....

Sekarang yang ku rasakan hanyalah bahwa kau berada digenggaman tangan besar berbalut plastik. Aku masih tak mengerti dan mencoba mencari solusi.

Sekarang, aku berada di sebuah tempat gelap, dikelilingi lapisan tak terlihat yang berbunyi, "kresekkk" jika tersentuh. Aku tak tahu aku berada di mana.





A k u h i l a n g .

(Terpaksa) Melarikan Diri

Persoalan itu belum juga dipertemukan dengan solusinya
Ku telah mencoba mencarikannya

Namun kau tak mau mengiyakannya

Kau berkeras dan memaksa


Sayang sekali dalam hal ini aku tak memiliki mimpi

Paksaan tak akan membuahkan hasil yang baik bagi hal ini

Aku tak ingin, aku tak pernah ingin pergi

Namun, aku tak ingin menemuimu, maka ku putuskan (terpaksa) melarikan diri

Senin, 29 Maret 2010

Awal 21: Anugerah Besar dan Musibah Kecil

23 Maret 2010

Diawali pukul 00.00 WIB dan diakhiri pukul 23:59 WIB

Pada pukul 19.30 WIB 21 tahun yang lalu aku berdarah karena terlahir ke dunia. Disambut dengan senyuman dan juga tangisan haru.. Namun, pada hari itu, 21 tahun setelahnya, pada jam yang hampir serupa, dengan keadaan berdarah, aku kembali disambut dengan senyuman dan tangis keharuan.

Kita flash back dan mengulas satu per satu kejadian dari awal dimulainya tanggal 23 Maret 2010.

Tepat pukul 00.09 WIB, sebuah sms mengagetkan aku yang sedang serius mengerjakan tugas mata kuliah Pengantar Konseling Keluarga dan Perkawinan. Katanya:

"Selamat ulang tahun yang ke-21, chocobon embem yang pengen dipyuk2..
Semoga panjang umur.. Dan sehat selalu.. Tentunya dengan si Embem jaga kesehatan ya.. Jangan bobo malem2.. Makan tepat waktu.. Dan yang bergizi ya Choco embem.. Jangan males mandi juga.. Biar ga apek.. Hi13x..
Sayang kamu, Chocobon Embem..
(=^w^=)
PS: Oh iya kadomu gimana??"
Hmm,, itulah sepenggal sms aneh bin ajaib dari orang yang ga kalah aneh bin ajaib.. Mesa Siregar. Haha.. Dia lah orang pertama yang menyadarkan aku bahwa hari Senin telah berganti menjadi hari Selasa. Bukan hari Selasa biasa tentunya -bagi aku- namun inilah hari Selasa yang akan membawaku pada suatu masa yang baru. Masa yang akan dipenuhi tantangan yang lebih spektakuler daripada masa kemarin.

Pesan di Facebook dan Twitter juga mulai berdatangan. Satu kata yang selalu memiliki kesamaan arti:
Selamat Ulang Tahun.

Hari itu, aku berulang tahun yang ke-21 dan ini lah hari yang menandai perubahan usia itu. Hari yang tentunya aku harapkan menjadi hari yang indah. Hari yang dapat aku manfaatkan untuk menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang berarti dalam hidupku. Hari yang sebenarnya biasa namun berubah menjadi luar biasa untukku karena kebetulan pada tanggal ini di 21 tahun lalu, aku terlahir ke dunia.

Setelah selesai membalas ucapan "Selamat Ulang Tahun" di berbagai media, dan menyelesaikan tugasku, ku matikan PC cantikku dan segera tidur. Capek. Senin kemarin aku tidur cukup pagi seperti hari ini.

Tak ada mimpi melintas. Aku terbangun dengan perasaan sangat bahagia. Menyempatkan diri membalas pesan-pesan yang ada, lalu aku bersiap untuk berangkat ke kampus Psikologi Universitas Gadjah Mada tercinta.

Di kelas, banyak teman-teman yang memberikan ucapan "Selamat Ulang Tahun". Senang rasanya aku diperhatikan oleh teman-temanku. Selesai kuliah Psikopatologi Perkembangan Remaja, aku dan temanku, Sissy menuju kantin untuk sekedar membeli cemilan dan kemudian menuju atrium Gedung A untuk finishing tugas PKKP -yang pada malamnya aku kerjakan- bersama Phiphit.

Oya, satu hal yang hampir terlupa, malam sebelumnya seorang teman, sebut saja namanya Ribka, telah memberi kabar yang fantastis, bahwa gaji asisten praktikum semester Ganjil 2009/2010 dapat diambil. Senang?? Tentu.. :D Aku anggap ini adalah hadiah dari fakultas..

Ditengah keasyikan bertugas, tiba-tiba aku dikejutkan dari belakang oleh adanya terkaman harimau!!! Hahahhaa,, lebay memang.. Tapi untuk teman-teman yang belum pernah diterkam harimau, kira-kira begitulah rasanya. Itulah terkaman maut dari Yusti. Mengendap-endap dan menerkam kemudian mengeluarkan sebuah kotak cantik berwarna cokelat dengan pita warna-warni di atasnya -sampai sekarang si pita masih nempel-, hadiah!! :D Sebuah kotak make up mini yang sangat manis. Dilampirkan juga selembar kertas binder yang ditulisi ucapan selamat ulang tahun dan rangkaian doa-doa yang diuraikan seperti layaknya seseorang twitteritarian.

@isyaisyo @momskyusti dan @silolalolipop
Menurut aku, bagian yang paling menarik dari lampiran hadiah ini adalah adanya TIPS MEMBUAT SMOOKY EYES oleh: Yosefina Yustiani yang dilengkapi dengan gambar mata dengan alis yang sempurna.

Lapar. Perut-perut mulai berdenting memberikan pertanda datangnya waktu makan siang. Maka, setelah mengantarkan Phiphit pulang ke kos, aku, Sissy dan Yusti segera melanjutkan perjalanan ke WS, Puri Artha. *Alhamdulillah, waktu itu mikirnya cuma cari tempat makan yang gampang parkirnya* Kami pun makan dengan lahapnya dan dengan khusyuknya hingga tiba-tiba kami merasa bahwa udara siang itu sangat gerah. Setelah perut kembali tenang, kami kemudian mengobrol dengan riangnya, seriang kicauan pertama burung Kenari di pagi hari. Lalalalalalilillilililiiii.... Yusti asyik bercerita tentang dua orang wanita di Galeria tempo hari, aku pun serius menyimaknya. Dan sekali lagi, tiba-tiba...

"Happy Birthday To You.. Happy Birthday To You.. Happy Birthday.. Happy Birthday.. Happy Birthday To You..."

Lagu "Selamat Ulang Tahun" dalam versi bahasa Inggris pun mengejutkan ku. Selain suara menggelegar itu, hal yang tidak kalah mengejutkan pandangan mataku adalah kedatangan tiga sosok gadis yang berdiri tepat di depan mukaku, yang membawa kue tart cantik berwarna merah muda dan dengan bersemangat menyanyikan lagu tersebut, yang kemudian membuat semua orang dalam ruangan menoleh terkejut. Mereka adalah -dari yang paling tua- Nhira, Winda dan Tiara. Disertai sebuah bingkisan manis berukuran besar dengan pembungkus yang aku suka teksturnya dan juga warnanya, dan tidak lupa sebuah pita unik yang secara keseluruhan adalah sebuah Hadiah berwarna merah muda. Jangan lupa: BERUKURAN BESAR. Dan coba tebak apa yang tersembunyi dibalutan kertas indah itu??

Sebuah Weaker Super Besar Yang Suaranya Super Keras!!!

Untuk orang-orang yang cukup mengenal aku,, pasti tau apa maksud dari ketiga makhluk pemberi hadiah ini. Sederhana saja, mereka mau aku tidak lagi terlambat kuliah.. Hehehhe... "Insya Allah ya,,sayanggg... ", hanya itu yang bisa aku katakan. Karena permasalahannya adlah bukan jam berapa aku bangun sampai aku terlambat, tapi, permasalahannya adalah jam berapa aku MOOD untuk berangkat. Itulah.. :'( Menyedihkan kan??

Nah, setelah akhirnya makan berenam, kami pun melanjutkan perjalanan masing-masing. Aku pulang ke rumah. Capek,, iya.. Terlalu banyak kejutan membuat jantungku berpacu lebih cepat daripada biasanya. Pengen rasanya aku tidur sebentar, tapi ternyata jam sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB. Aku punya janji pengajian. Harus mandi dan scepet2 siap2.. OWOWOWOWOWOWO... Ngantuk..

Sepenuh hati dengan setengah kekuatan aku mempersiapkan diri. Sekejap kemudian, aku siap. Pukul 18.30 WIB.


Di jalan menuju lokasi pengajian, tiba-tiba...






Hal yang aku ingat hanyalah, tiba-tiba aku melihat sesosok bayangan hitam berjalan mendadak agak ke kanan, dan aku senpat berpikir, "harus menghindar".



"Aaahhhh!!!!!!!"






BRAKKKKKK!!!!!!!!!!!





Aku tiba-tiba sudah mendarat di tanah yang keras karena dilapisi aspal hitam, terseret kurang lebih 3 meter dari tempat berteriak terakhir.




Deg..deg..deg..deg..deg..




"Harus telepon ibu.."
Dengan tangan gemetar, aku berdiri dengan bantuan seseorang yang tidak jelas wajahnya -gelap- aku meraba saku dan menemukan Henpon si GROCiwati yang masih utuh. Aku menelepon ibu. Untung segera tersambung.

Banyak pertanyaan yang disampaikan padaku. Aku sadar, aku menabrak bayangan hitam yang ternyata tubuh manusia.
"Masnya ga papa???", Aku mencoba bertanya, tapi tak ada jawaban.
"Mbaknya ga papa,,mbak? Luka ga??" ada yang menanyaiku..
"Gapapa,, mas.." Hanya itu yang ku lontarkan.

Setelah beberapa diskusi "kekeluargaan" di Tempat Kejadian Perkara, sampailah aku di rumah.




Pedih...




Ternyata aku bukan tidak apa-apa, aku terluka!
Seketika...
"Ibuu... sakiittt.... hiks.. hiks...", aku menangis seperti anak kecil.
Ini pertama kalinya aku mengalami kecelakaan motor. Dulu, aku pernah terjatuh, tapi dari sepeda. Waktu kelas 4 SD bersama teman SDku, Dhea Candra Erista.. :D
Tapi luka-luka di waktu itu tidak separah sekarang. Waktu itu, aku hanya mengalami luka di siku kiri dan lutut yang tampak gosong, namun berbeda dengan si Dhea, entah bagaimana gaya jatuhnya, dia mendapatkan luka di dagu dan sebuah luka lagi berbentuk garis lurus rada tebal di bawah hidung. Pokoknya mirip Kera Sakti.. Hahaha.. *Piss, Dhe*

Jadi, malam itu, malam ulang tahunku yang ke-21,, aku pertama kali mengalami kecelakaan sepeda motor dan itu sakit.


Masih menangis, ibu dan budhe-budhe yang ada menetesi luka-lukaku dengan obat anti infeksi.




Perih..




"Hiks..hiks..", aku masih menangis dalam diam.
Diam karena kesakitan tapi juga malu. Aku jatuh karena menabrak orang jalan!!! Konyol, kan????? Banget!
Dan setelah itu, tiba-tiba Sang pacar, Mesa Siregar datang dengan wajah bingung melihatku yang terbaring sambil menangis. Setelah sempat becerita, akhirnya dia hanya dapat berkata,
"Aku kasian si ma kamu, tapi kamu ko konyol banget pake nabrak orang jalan???"


Seluruh penjuru tulang terasa sakit, luka-luka makin perih, maka akhirnya Ibu menyarankan ke UGD RS. Panti Rapih, dan pergi lah aku ke sana bersama Sang pacar.



Disepanjang perjalanan menuju UGD, aku hanya bisa menangis karena sakit, menangis karena aku malu, dan menangis penuh syukur, aku masih HIDUP.


Nah, inilah kisah Tanggal 23 Maret 2010, Hari Selasa yang kebetulan hari ulang tahunku.
Saat pertama aku merasakan sakit karena terjatuh dari motor. Pengalaman yang sangat berharga untukku.

Oya, sebelum aku pergi ke UGD, Sang pacar sempat memberikan hadiah untukku, Sepatu karet biru muda yang lucu.

Hm.., akhir kata, aku hanya dapat berucap TERIMA KASIH BANYAK untuk seluruh pihak yang telah terlibat.

Mesa, Yusti, Sissy, Nhira, Winda, Tiara, dan seluruh teman-teman. Untuk Bapak, Ibu, Adek Dian dan seluruh Keluarga besar. Bapak-bapak dan Mas-mas yang menolong aku saat terjadi kecelakaan, Mas yang aku celakakan dengan tidak sengaja, dan seluruh pihak RS. Panti Rapih yang hingga hari ini masih memantau perkembangan luka ku yang belum juga sembuh.



**TERIMA KASIH**


Minggu, 14 Maret 2010

Balada Cumi-cumi

Nenek moyangku seorang pelaut
gemar mengarungi luas samudra...


Nah,,itulah sepenggal lagu yang dihafal oleh kami anak-anak Bangsa Indonesia. Pencipta lagu tersebut pasti menciptakan lagunya karena diilhami mata pencaharian utama sebagian besar rakyat Indonesia di masa itu. Nelayan. Ya, negara Indonesia adalah negara maritim atau negara kepulauan terbesar di dunia.

Menurut http://richocean.wordpress.com (2009), Indonesia memiliki panjang pantai 81.000 km atau 14% garis pantai seluruh dunia, di mana 2/3 wilayah Indonesia berupa perairan laut. Jumlah pulau adalah 18.108 di mana hanya 6.000 pulau berpenduduk. Luas laut kedaulatan 3.1 juta km2. Luas laut ZEE 2.7 jt km2. Zona pesisir dapat menopang kehidupan 60% penduduk Indonesia.

Dengan wilayah perairan yang luas, tentunya banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh bangsa Indonesia. Salah satunya adalah banyaknya jenis flora dan fauna laut yang hidup di lautan-lautan Indonesia.

Aku adalah salah satu orang yang bersyukur karenanya, aku dan keluargaku termasuk penggemar makanan laut a.k.a seafood. Macam-macam penghuni laut yang pernah aku makan masih termasuk standar, maksudnya aku belum pernah memakan penghuni laut yang bernama bulu babi, bintang laut, ular laut, dll, bahkan memakan ikan pari pun aku belum pernah. Yah, ini disebabkan karena aku termasuk salah satu makhluk bumi yang pilih-pilih makanan atau istilah bulenya eke rada picky.. :p

Beberapa penghuni laut yang suka sekali aku makan adalah ikan bawal, ikan kepiting, ikan tengiri yang dibuat pempek, kepiting, UDANG!!! (I really like this!!), dan cumi-cumi (this is my second favorite), selain itu ada juga rumput laut atau ganggang-ganggang yang aku makan. Tapi untuk si ganggang ini aku lebih memilih memakannya dalam bentuk agar-agar.. :D
Cara mengolah makanan laut yang beragam juga menjadi pilihan ketika aku makan. Untuk perikanan, aku lebih suka ketika mereka dimasak tanpa kuah! karena dengan kuah mereka menjadi amis, dan aku tidak suka.. :'( aku lebih suka mereka berbentuk ikan bakar, ikan goreng dengan variasi masakannya, pokoknya bukan kuah!!!

Nah, sebenarnya cerita ini di mulai ketika seorang pria yang merupakan kekasih hatiku was sent me a text message in 11th of March 2010, 09.30 pm.

Katanya, "Aduh pengen calamari ring goreng tepung.. =D"

Hem,,di malam yang dingin itu, aku yang sedang kelaparan langsung membalas.., "Mau..mau..mau.. :9 btw, calamari itu apa?"

Hahaha,,untung si calamari itu adalah cumi-cumi bentuk lingkaran yang digoreng tepung. Misalnya aja bukan,, misalnya adalah kuning telur berbentuk llingkaran, si kekasih pasti ketawa ngakak!! :"P

Setelah perbincangan yang panjang via Short Message Service a.k.a SMS di malam itu, maka kami memutuskan untuk memasak sendiri in order to memperbanyak kuantitas!!! Karena kebetulan kami berdua sama-sama suka sekali sekali sekali sekali sekali dengan makanan laut tersebut.

Hari yang ditetapkan adalah Hari Sabtu, 13 Maret 2010 sore, pukul 15.00 WIB. Tempat belanja yang dituju adalah Superin*o, dan arena peperangan adalah Rumah Nitikan. *hipotesis kami adalah si ibu adalah orang yang paling sedikit complain kalo dapurnya kotor*

Hal yang perlu dibeli adalah:
1. Jahe secukupnya
2. Jeruk nipis secukupnya
3. Cumi-cumi yang sekiranya cukup untuk dimakan berdua atau bertiga atau berempat
karena Maezena, Tepung terigu, telur, minyak goreng dan aneka lat memasak sudah tersedia di rumah. *Alhamdulillah, mengurangi pengeluaran*

Sesampainya di counter ikan-ikan dan makhluk laut, aku berdiri diam di depan seongok benda rada panjang berbentuk rudal berwarna ungu yang berenang-renag di wadah berair hitam Itulah tempat peristirahatan si cumi-cumi di Superin*o.

Aku spontan bertanya pada si kekasih, "Meco, cuminya uda mati kan ya?" pikiranku saat itu si cuma "Kalo ternyata si doi masih hidup, lalu aku menjepitnya dn memasukkan ke plastik, doi pasti berontak dan secara refleks doi akan menyemprotkan tinta hitam ke aku.. OMG,,bisa berubah jadi dakocan de, aku" (-____-"). Em,,ga masuk akal si,, cuma kan tindakan preventif itu mesti ada.. :D *alibi*

"Uda mati lah.. Coba kamu liat, cuma si kepiting yang diiket, berarti cuma dia yang hidup", itu jawaban si Mecobonbonbonbonbon.

Oh,,okay,,make sense juga si.. Lalu setelah itu, aku memberanikan diri mengambil penjepit untuk mengangkat si cumi dari peraduan kecilnya. "Here we go,,cumaiwataiiii!!!" \(^0^)/

Sempat terhenti sejenak, aku, aku, aku ga tau bagaimana cara memilih si cumiiiii!!! Kan kalo ikan gampang tu,,tinggal diliat insangnya, kalo cumi,,apa yang diliat ya? Bertanya pada si kekasih yang tampaknya juga ga tau *akan ku pastikan kalo dia juga ga tau setelah ini* dia cuma bilang, "Sama aja ko." Kalau sudah begitu, aku tinggal memilih cumi-cumi yang ukurannya sesuai keinginan de.

Dan akhirnya, mereka yang terpilih adalah Sibesar, Sisedang, dan Siradakecilandikit. Setelah ditimbang, ternyata beratnya sekitar 0,5 Kg. Yup! Lumayan dah.. :D

*Sebenarnya proses pemilihan cumaiwatai tidak semudah ini loh! Terjadi adu-adu pendapat sedikit di sana-sini. Semacem adegan suami istri mau beli rumah gitu,de. Tapi bagian itu tidak terlalu aku ingat, jadi ga usah diceritain ya..*
:D

Setelah membayar, kami segera menuju bublue-nya si kekasih. Ngeeeeeeennnnnnggggggg........

------------------------------------------------------------------------------------------------
Sesampainya di rumah Nitikan, kami langsung beraksi, mengeluarkan cumi dari plastik dan menempatkannya dlam suatu mangkuk bergagang yang terdiri dakam dua bagian, yaitu bagian atas sebagai penyaring dan bagian bawah sebagai penahan air. *ngerti maksudnya kan*
Sempat beberapa detik akmi memandang si cumi yang mungkin saat itu sudah tenang berenang-renang di laut surgawi. The things is,, kami tidak tau cara membeteti si cumi!!!
"Hoalah, piye iki,, Meco???" pertanyaan pertamaku memecah kesyahduan dalam memandangi si cumi.

"Aku juga ga tau,, Choco", jawab si kekasih.

Hemmm,, kemudian aku teringat masakan cumi-cumi di Rumah Makan Padang, sicumi tidak berwarna ungu, tapi putih.

"Oke Meco, kita kuliti si cumi! Tapi sebelumnya, lepas dulu badan si cumi dari kepalanya", itu hal yang bisa aku simpulkan untuk saat itu. *Si ibu belum dateng, jadi ga bisa tanya*

"Rogerrr!!!!", kata si Meco.

Aku pun mengumpulkan keberanian untuk menyentuh si cumi, selama ini aku cuma pernah menyentuh cumi-cumi yang sudah dalam keadaan matang, belum pernah menyentuh yang mentah. *mungkin pernah, tapi lupa*

"Hyaaaa!" aku spontan melepas si cumi dan melompat ke belakang.

"Apaan si??!!" si Meco mulai emosi negatif.. :p

"Itu,, cuminya licin dan aneh.. Uda mati kan ya????" aku cuma berharap jawabanku tidak terkesan bodoh bagi si Mecobonbonbonbon. Tapi ternyata gagal.

"Kalo masih hidup dia pasti menggelepar dooonkkk..." jwaban si Meco bikin ugh! Asem...

Ku bulatkan niat tulus suci untuk
membeteti si cumi.
Ciat..ciat..ciat.. Ewww... ternyata begini rasanya membeteti si cumi.. Ewww..
No..No.. No...
Rupa-rupanya raut muka jijikku terlihat oleh mata bengis si Meco. :p

"Ga usah jadi istri aja kalo gitu", *JLEB!!* Siallllll!!!!

"Kan ini
my first time, Mecooo.. Wajar donkkk...", ini bentuk defense mechanism aku.

Yah, singkat cerita, proses membersihkan si cumi memakan waktu lama dan disertai beberapa kali jutek-jutekkan antara aku dan si kekasih. Pokoknya kita sama-sama merengut.
Aku membayangkan, dulu ketika masih hidup dan berenang-renang di lautan, si cumi pasti suka menyanyi-nyanyi bersama rekan-rekannya sesama warga lautan..


Down here all the fish is happy
As off through the waves they roll

The fish on the land ain't happy

They sad 'cause they in their bowl

But fish in the bowl is lucky

They in for a worser fate

One day when the boss get hungry

Guess who's gon' be on the plate

Under the sea

Under the sea

Nobody beat us

Fry us and eat us

In fricassee

We what the land folks loves to cook

Under the sea we off the hook

We got no troubles

Life is the bubbles


Under the sea
Under the sea
Since life is sweet here

We got the beat here

Naturally

Even the sturgeon an' the ray

They get the urge 'n' start to play

We got the spirit

You got to hear it

Under the sea
Dan sekarang si cumi adalah makhluk laut yang sedang dipersiapkan untuk dimakan..

"Maaf ya cumi", itu kata-kata pertamaku untuk si cumi.

Karena tanganku jadi gatel-gatel, aku lalu berpindah haluan dari membeteti si cumi menjadi menguliti si jahe dan menyiapkan bumbu.
*untung kemudian si ibu datang dan mengiyakan cara kami membeteti si cumi*

Setelah semua cumi bersih dan semua bumbu siap, aku lalu memotong-motong si cumi yang dinilai kegedean oleh si kekasih.

"Hhh...,,namanya juga belajar,,,Mecooo", kataku.

Suasana setelah itu mulai memanas seiring dengan peningkatan suhu minyak dalam penggorengan.

Cumi yang sudah dipotong lalu didiamkan 10 menit dalam rendaman jahe, jeruk nipis, garam dan lada. Katanya si, biar si cumi ga amis dan ga alot nantinya. Sementara itu, aku mengocok telur dan menyiapkan tepung terigu.


10 menit kemudian...


Si cumi ditaburi dengan maizena, lalu dimasukkan ke kocokkan telur, dan sebelum masuk penggorengan, si cumi diselimuti tepung terigu terlebih dahulu.

WOW!!!
Setelah memakan waktu cukup lama, si cumi matang menjadi lingkaran-lingkaran kecil kecokelatan yang tampak sangat lezat..

*prosesnya diskip soalnya banyak perdebatan rumah tangga di dalamnya*
:p

Dan ternyata,,,,,, penting untuk Anda sekalian ketahui, Wahai,, pemirsa acara "Memasak bersama Chef Isya dan Mesa"....,,,

WE DID IT!!
W-E D-I-D I-T!!!!!

Yihaaa.. Syalalala.. Setelaha proses memasak yang panjang si cumaiwatai berhasil dijelmakan menjadi clamari ring goreng tepung yang enak!! :9 Dan perdebatan kami pun membuahkan hasil cinta yang lezattt.. :D

Sama-sama ingin menjadikan si cumi menjadi makanan yang enak bagi satu sama lain, itulah mengapa kami banyak berdebat. ^^

Nah, inilah cumaiwatai goreng tepung persembahan dari kami.


Bon Appétit!!!!!!!


Kamis, 11 Maret 2010

Jas Hujan Kuning Beraksi (Lagi)

Hari Kamis ini, aku bangun pagi-pagi. Tumben-tumbenan dalam sejarah perkuliahan aku bangun dengan kesadaran penuh pukul 05.30 WIB. Padahal hari ini aku kuliah pukul 10.30 WIB. Tengok kanan, tengok kiri, sepi.. Nyalain hape GROCiwati yang ternyata mati, dan ga ada sms. Niatan ngecheck twitter, tapi inetnya belum mau konek. Aku putuskan tidur-tiduran lagi.

Tidur-tidur ayam, dikit-dikit kebangun. Pukul 07.00. Masih lama..
Tidur-tidur bebek, tiba-tiba pukul 08.00! Aku bangun.

Duduk di tepi tempat tidur, berhadapan langsung dengan si kompi sakti dan merasa ada yang terlupakan. "Apa ya??", aku bener-bener lupa.
Aku beranjak dari kamar tidur dan menuju dapur. Aku ingat!!! Masakkanku di Cafe World! Langsung aku lari lagi ke kamar dan langsung nyalain si kompi sakti yang seolah-olah ngomong, "Nah looo!! Masakannya gosong!!"

Berhadapan dengan si kompi sakti ini (lagi )dan aku berdoa.. "semoga masakanku ga gosong.. pliss...!". Pencat-pencet tombol ini itu,, klik sana klik sini, si inet pun konek. Langsung buka si facebook dan aplikasinya.. SUBHANALLAH!!! Masakanku utuh.. Lalalallaaaa... :D

Main-main bentar dan memasak untuk 5 jam kemudian. Tiba-tiba uda 09.00 WIB. Langsung klak-klik lagi dan pencat-pencet lagi.. Aku off.

Makan pagi lalu mandi.. Wii ajaib sekaliii... :D

Ditengah-tengah bikin eyeliner, si bapak marah, "Kamu tu, motornya ga diisi bensin. Sekarang motormu mogok tu".
"Wii,,sial ni babe,, anak gadismu lagi serius bikin eyeliner yang super super butuh konsentrasi malah dimarahin aja niii...", si isi hati menjawab. Tapi ga mungkin lah aku jawab begitu ke si bapak yang mendanai kuliahku ini, bisa digantung di pohon kedelai akunya. Jadinya aku jawab dengan sabar, "Bapak, itu motor kemaren uda aku isi bensin Rp 5.000,-"
(Maaf Syupiwati, aku cuma mengisimu dengan bensin senilai Rp 5.000,-)

Si Bapak langsung menuju ke motorku, dan mengutek-uteknya. Aku lanjut mempercantik diri biar keliatan kalo uda mandi. Tiba-tiba uda 10.00. Wetz.. Aku ga mau telat ni, MODIF gitu looo.... Cepet-cepet nyamber ransel Reebok gantengku, aku lari ke belakang cari sepatu, dan oh ternyata si motor sedang mengalami operasi kecil, yaitu operasi penggantian busi. OMG! Alamat telat! Dan bener aja, jam 10.24 si motor baru mau nyala dan itu belom ada pemasangan sekrup-sekrupnya.. Langsug sms Siswanti dan Mecobon.. Hiks.. Bete sekali pagi ini. x(

Pukul 10.30 WIB, aku berangkat kuliah dan bapak kasih uang buat beli bensin lagi. Tapiiiiii,, ini uda 10.30,, ga sempat beli kalo pagi ini.. Ya uda, si duta dikantongin dan aku langsung ngebut menuju bangku tempatku belajar.. :p

Ngeeeeeennnngggg........ "Buka kita buka hari yang baru..", tidak lupa aku singing this song sepanjang jalan biar Bete rada ilang.

Pukul 10.49 aku sampai di depan kelas.
Eh sial amat! Si Pristin duduk di depan sendiri! (LOL) Dia langsung geleng-geleng kepala kaya ibu pejabat DPRD.. "ckckck", gitu katanya.. Rasanya kaya ada ibu pejabat DPRD yang ngeliat akademisi pintar *I'am* dateng telat ikut rapat kampanye pemilihan si ibu.. (LOL) *peace, miiiiiii* ^^v

Setelah menatap si Pristin a.k.a amiwatai, mataku langsung searching ke lubang-lubang kantong pengungsian yang masih kosong. Huwaaa... Belakang sendiri di pojokkan.. :(

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku ikut pelajaran dengan riang, serius mendengarkan *cieeee* tapi kawan sebelah tidak sepikiran. Beberapa kali dia mengajakku mengobrol dan itu bikin aku serba salah.. "Hei..hei.. Aku pengen belajaaarrrr, tapi aku ga tega cuekin ceritamuuuuu.." :'(
Kawan, The thing is, aku adalah orang yang kalo uda mingkem akan sulit ngomong dan kalo uda ngomong akan sulit mingkem. Jadi karena aku butuh belajar, aku putuskan tetap mingkem dan sekali-kali cuma jawab, "hem..emmm..ehhmm.." *maaf kawan kalo aku ga responsif* :'(

Selesai kuliah aku langsung menghampiri si Siswanti dan klarifikasi tatapan tajam ibu pejabat DPRD tadi,, "Mi,,motorku macet gara-gara kemaren keblebeg".
Si Ibu pejabat DPRD ini berasal dari ibukota, sehingga rupa-rupanya beliau tidak mengerti arti "keblebeg" dan kemudian aku menjelaskan dengan penuh hormat *ngomong ma orang tua harus hormat* :p . " Keblebeg is kerendem air, Mi..", dan si Ami sableng malah menjawab dengan semena-mena, "Makanya kalo naik motor jangan di kolam".. Amiiii....... *ane juga kaga maksud nyemplungin tu motor ke kolammmm* (LOL)

Hoho... Maklum pembaca, Kawan saya yang bernama Ami a.k.a Pristin ini emang kadang-kadang udik juga.. Mana ada orang naik motor di atas kolam.. "ckckck.. Ami.. Ami..", kesempatan membalas Ami. :p

Pulang kuliah jalan bentar sama Siswanti dan mengantarnya ke mobil, selanjutnya aku memarkirkan si Syupiwati di gedung Selatan karena Mecobon will pick me up di deket Filsafat.. :D
*finally aku bisa pacaraaaannnn*

Jalan santai ke arah Filsafat dan ternyata si Mecobon sudah menangkring dengan indah di atas motornya, menantiku.. Ohohohohooo... *berasa bagai putri salju*

Kita diskusiin tempat makan dan akhirnya memutuskan untuk ke Oregano, Sagan.

Aku pesen true chocolate ice cream, air putih, dan double steak crispy steak dan Mecobon pesen mix grill steak dengan minuman honey lemon squash. *Nyam..* Kayanya enak :9

Tidak lama setelah itu, si pesanan datang dan ternyata yang namanya DOUBLE STEAK CRISPY STEAK itu sangat BUANYAKKKKK!!!!! Enak! Mantap!!!!!! nyam.. :9

Pulang dari makan, Mecobon anter aku ke kampus dan aku segera menuju Foodfest. *bukan untuk makan lagi* Di jalan sempat si aku mikir, "Beli bensin dulu ah..", tapi si hati berkata, "Ke Foodfest dulu aja, abis itu beli bensin di Jakal.." Yup.. Begitu lebih baik tampaknya.. Efisien. :D

Selesai dari Foodfest, ternyata oh ternyata si hujan mulai hujan., maksudnya mulai turun.. :p
"Wah harus cepet ni.. Males pake jas hujan.." begitu pikirku.
Aku memfokuskan diri pada jalanan dan kemudian lupa untuk mampir di pomp bensin Jakal seperti rencana awal. Aku cuma sempat berhenti untuk pake si jas hujan kuning bagian atas dan setelahnya aku langsung jalan.....

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Akhirnya aku sampe di depan D3 Ekonomi dan keinget untuk beli bensin. Lampu merah, ternyata.. :( Waktu uda hijau dan aku mulai jalan, tiba-tiba si motor bergetar.. blep..blep.. aku terus menarik stang gas biar si motor tidak mematikan diri.. "Habis ni si bensin", itu yang tiba-tiba terlintas. Langsung aja, dengan sisa kekuatan aku mengarahakan si motor ke arah pomp bensin Sagan dari arah Minimarket itu..

Blep..blepp...

Seketika si motor mati bersamaan dengan tatapan nanar dari kedua mataku yang tertuju pada sebuah tulisan di pomp bensin,






HABIS

















-------------------------------------------------------------------------------------------------

Jantungku sempat berhenti sedetik dan nyawaku sempat berkelana keluar tubuh... *lebay*
Si motor bener-bener ga mau nyalaaaa..... Oh God.. Why is it happened to me???? Oh... My.....

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebelum malu, aku langsung berbalik dan turun dari si motorku sayang Syupiwati dan mendorongnya ke arah RS. Panti Rapih. *Karena aku ga mau nanggung malu untuk menyebrang jalan ke arah Sagan..* :'( :'( :'(

Dan sekali lagi, aku yang ber-JAS HUJAN KUNING mendorong si motor cantik bernama Syupiwati disaat hari hujan!!!!

That was my second times.. :(

Lain kali aku tidak akan menunda mengisi bensin.. "I promise my Syupiwati.. :'( Forgive me yaa..???"

:'(

PS. Untungnya aku sempat makan steak yang porsinya segambreng-gambreng sehingga aku tidak pingsan ketika mendorong si Syupiwati, Terima kasih, Mecobon..!! :D


Selasa, 09 Maret 2010

Tunjukkan Jalan Damai-Mu

Ketika ku berjalan, ku lihat tak sepenuhnya dunia ini indah.
Ku lihat ada kebencian, permusuhan dan peperangan di dunia ini.
Bukan hanya orang berbeda ras, agama, dan keyakinan saja, Tuhan.
Tak jarang hal itu terjadi pada saudara sedarah bahkan hubungan antara orang tua dan anaknya.

Tuhan, apa yang sedang terjadi?
Ini kah ujian dari-Mu bagi hamba-hamba-Mu?
Tuhan, jika ini
memang persoalan dari-Mu,
Mungkinkah suatu saat akan Kau berikan jawabannya padaku?

Tuhan, Would You please show me Your way..?

Agama yang telah Kau sempurnakan ini adalah agama kedamaian..
Mungkinkah karenanya ujian yang Kau berikan juga mengenai kedamaian?
Apakah semua ini Kau maksudkan agar hamba-Mu mengerti tentang esensi kedamaian?
Jika memang begitu, bantulah kami untuk mengerti cara menuju rasa damai itu, Tuhan..

Bantulah kami untuk dapat saling menghargai..
Lalu, bantulah kami untuk dapat saling mengerti..
Bantu kami untuk dapat saling mengasihi, dan..
Bantulah kami untuk menuju masa kedamaian..

Kami menantinya, Tuhan..
Kami menanti kedamaian..
Kedamaian abadi yang suatu saat akan Kau hadiahkan pada kami..
Kedamaian sejati yang hanya berasal dari-Mu..

Minggu, 28 Februari 2010

Kasih vs Kasihan

Tiada Tuhan Selain Allah
Malam ini saya bersama Ibu saya mengunjungi rumah teman ibu saya yang bernama Tante K. Tante K adalah seorang wanita berusia kurang dari 40 tahun, ibu dari seorang anak laki0laki dan anak perempuan, dan merupakan istri dari seorang laki-laki yang diberikan anugrah oleh Tuhan.

Tante K adalah wanita yang cukup ulet. Beberapa waktu yang lalu, Tante K memutuskan untuk "kembali ke rumah". Semua kegiatan di luar rumah ditinggalkannya. Tante K mulai memfokuskan diri untuk menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluarga kecilnya.

Selain demi keluarganya, Tante K juga mulai memfokuskan diri untuk menjadi hamba yang sholehah -saya tidak tahu istilah apa yang biasa digunakan dalam agamanya bagi seorang wanita yang taat- dengan segala usaha yang digunakannya untuk mendekati Tuhannya.

Menurut saya pribadi -karena saya memutuskan agama Islam sebagai jalan hidup saya- tidak banyak yang berbeda dari apa yang diajarkan oleh agama Tante K dan agama saya. Jika agama saya adalah agama kedamaian, agama Tante K merupakan agama cinta kasih. Tidak ada kedamaian tanpa lahirnya cinta kasih.

Jika semua orang dapat mencintai dan mengasihi sesamanya, kedamaian kemudian akan tercipta.

Cinta kasih Tuhan terhadap hambanya adalah MUTLAK! Kekal dan bukan merupakan kemungkinan. Semua yang dianugrahkan Tuhan kepada hamba-Nya selalu berdasarkan rasa kasih yang tulus dan suci. Tiada kasih seindah kasih Tuhan kepada hamba-Nya.

Dapatkah kita memberikan kasih kita kepada setiap manusia?

Sering kali kita merasakan kasihan kepada sesama kita. Hanya berbeda dua huruf saja, makna kasih yang ada kemudian berubah. Coba kita renungkan sejenak...

Suatu ketika kita berjalan dan bertemu dengan seorang pengemis yang berkebutuhan khusus.. Muncul suatu perasaan spontan di hati kita yang menyebabkan kita ingin memberinya sedikit uang.

Perasaan apakah itu??
Kasih atau kasihan???

Mari kita dalami dua arti kata tersebut..

Menurut Tante T, rasa kasihan lebih sering muncul ketika kita memandang orang lain dengan keadaan lebih buruk dari kita. Misalnya saja contoh di atas, kita memberi uang kepada pengemis tersebut karena kita merasa kasihan. Namun, pernahkah kita merasa kasihan kepada orang yang kaya raya?
Sedangkan kasih adalah perasan yang muncul yang cenderung kita tujukan kepada orang yang sama -sederajat- dengan kita.

Sekarang, coba kita renungkan sekali lagi, rasa kasih atau kasihan yang muncul ketika Anda memikirkan pengemis tersebut? Kalau saya pribadi, rasa kasihanlah yang menyelimuti hati saya ketika membayangkan kisah pengemis tersebut.

Saya tersadar setelahnya,..
Bahwasannya Tuhan menciptakan manusia itu SAMA, yang membedakan mereka adalah ketaqwaan, dan yang dapat menilai ketaqwaan seseorang hanyalah Tuhan. Jadi dapatkah saya dengan pemikiran ini menghilangkan rasa kasihan dan menggantinya dengan rasa kasih? Dapatkah suatu hari nanti saya memberikan uang kepada pengemis hanya berdasar rasa kasih saya??

Saya tak pernah tahu apa hasilnya. Dan menurut Tante T, hasilnya tidak begitu penting dibanding prosesnya dan perjuangannya. Analoginya begini:
Jika saya mencoba untuk mengubah rasa kasihan menjadi kasih di hari pertama, mungkin saya gagal. Di hari kedua mungkin berhasil, namun hari ketiga rasa kasihan yang menang. Hari keempat saya berhasil, begitu juga hari keenam. namun apakah ketika hari ketujuh saya berhasil lagi dan itu telah membuktikan saya telah berhasil menghilangkan rasa kasihan menjadi rasa kasih yang murni? Bagaimana dengan hari kedelapan, kesembilan dan seterusnya?
Rasa kasihan itu tidak akan pernah berubah menjadi rasa kasih selama kita meninggikan diri kita daripada hamba yang lain.

Merendahlah maka kamu akan mengasihi sesamamu..

P.S: Mari kita ciptakan rasa kasih di antara sesama dan mendatangkan kedamaian..

Kisah Seorang Wanita Bernama Sudijah

Dilahirkan di keluarga kecil, Sudijah (baca: Sudiyah) kecil memiliki dua orang kakak tiri berbeda bapak. Hidup di jaman penjajahan, Sudijah terlahir pada tanggal 25 Mei 1939. Beranjak dewasa Sudijah kemudian menikah dengan seorang pria rupawan bernama Prapto. Mereka dikarunia 7 anak, 4 laki-laki dan 3 perempuan. Kehidupan awal pernikahan yang sangat membahagiakan. Suami Sudijah berprofesi sebagai pengrajin logam -keris-hiasan rumah tangga dari kuningan-, sedangkan Sudijah sendiri adalah ibu rumah tangga yang mengurusi anak-anaknya.

Keluarga besar ini terasa sangat harmonis. Pekerjaan Sang suami menghantarkan keluarga Praptowihardjo ke puncak kesuksesan mereka. Namun sayang tak lama setelah itu, prahara menerpa. Sang suami pergi entah ke mana, meninggalkan Sudijah dan ketujuh anaknya. Perubahan perekonomian membuat perubahan drastis pada pola hidup keluarga ini. Mereka harus mulai berhemat. Sudijah mulai putus asa, sendirian menghadapi hidup dan harus berjuang sendiri untuk menghidupi malaikat-malaikat kecilnya. Sudijah sadar bahwa ia belum bisa menyerah. Sudijah pun bangkit demi ketujuh mulut mungil yang masih harus diberi makan olehnya.

Hari berganti,...
Ketujuh anak Sudijah mulai dewasa dan kemudian menikah. Sudijah tetap sendiri, menjalani masa tuanya di sebuah rumah seluas +/- 1000m2 pemberian dari Sang suami. Sudijah hidup bersama 3 keluarga anak lelakinya yang tetap hidup bersama. Sudijah yang tidak bekrja menggantungkan hidupnya pada barang-barang yang dapat digadaikan atau dijual dan juga uluran kasih dari anak-anaknya yang mampu. Meski begitu, Sudijah tua tak pernah mengeluh. Sudijah berkembang menjadi seorang nenek yang dekat dengan semua cucunya. Sangat dekat.

Menyadari masa hidup yang sudah banyak terpakai, Sudijah kemudian mulai memfokuskan diri untuk mengumpulkan bekal ke akhirat. Sudijah mulai belajar membaca Al-Qur'an. 2 kali seminggu Sudijah tua pergi ke rumah anak ke-tiganya untuk turut belajar mengaji bersama kedua cucunya. Sudijah adalah wanita yang mandiri, ia tak pernah ingin merepotkan orang lain. Jarak jauh bukan masalah bagi Sudijah untuk belajar agama. Ketika anak-anaknya tidak memiliki waktu untuk mengantarkannya, Sudijah dengan senang hati akan pergi dengan menggunakan transportasi umum. Begitulah Sudijah..

Tak hanya mengaji 2 kali seminggu di rumah anak ke-tiganya, Sudijah tua juga mengisi setiap waktu luangnya untuk memeperdalam ajaran agama. Semua pengajian yang diketahuinya diikuti, setiap ceramaha agama yang ada di televisi ditontonnya. Terbangun setiap pukul 02.00 untuk mandi kemudian Sholat Tahajud, dilanjutkan mengaji menanti adzan Subuh. Selesai sholat Subuh, Sudijah selalu siap sedia di depan televisi mungil pemberian anak ke-empatnya untuk menyimak setiap pengajian yang ada. Chanel berganti, begitu juga tahun-tahun.. Sudijah ingin naik haji..

Anak-anak Sudijah mengetahui keinginan ibunya, pahlawan kehidupan mereka. Mereka kemudian mengusahakan agar ibu mereka dapat pergi beribadah ke tanah suci. Sudijah memiliki satu doa sepanjang hidupnya..

"semoga suamiku kembali padaku"

Tuhan semesta alam mendengar dan mengabulkannya. Di akhir hayatnya, Sang suami dating dan meninggal dipelukan Sudijah. Sudijah senang sekaligus bersedih. Senang karena doanya dikabulkan dan bersedih karena ia hanya memiliki sedikit waktu untuk merawat suaminya sebelum meninggal.

Sang suami meninggalkan setumpuk hutang pada Sudijah dan anak-anaknya. Namun dengan kesabaran dan keikhlasan, Sudijah berusaha sekuat tenaga agar dapat membayarkannya.

“cinta bukanlah pengorbanan, melainkan dedikasi”

Cinta Sudijah pada keluarga –orang tua, suami, anak dan cucu- tak pernah lekang oleh waktu. Setiap hari dalam setiap sujudnya, mereka memiliki waktu khusus untuk didoakan oleh Sudijah.

Rabu lalu, 24 Februari 2010, Sudijah yang selalu menjadi penyemangat bagi orang lain telah berpulang pada Sang Penciptanya. Senyum manis menghiasi wajahnya yang lelah menhadapi penyakit –yang sebenarnya sederhana- diakhir hidupnya.

11 hari sebelum kepergiannya (13 Februari 2010) Sudijah dirawat di Rumah Sakit karena mengalami alergi obat pasca operasi kecil. Sebenarnya operasi yang dijalani Sudijah berjalan lancer, namun obet yang diberikan tidak sesuai dengan keadaan tubuh Sudijah sehingga terjadi alergi. Seluruh tubuh Sudijah berubah merah dan ia merasa panas dan gatal. Namun diwaktu seperti itupun, Sudijah tetap tidak ingin mengeluh. Dia tetap berusaha agar dapat sembuh, dia tidak ingin membuat repot orang lain.

“aku tu pengen cepet sembuh, aku ngga suka bikin orang kerepotan”

6 hari di rawat di Rumah Sakit pertama, Sudijah tidak juga mengalami perubahan positif. Keadaan Sudijah malah semakin buruk karena penyakit tersebut sudah mulai menyerang organ dalam Sudijah. Sudijah sulit makan karena tenggorokannya sakit. Namun begitu Sudijah tetap bercanda dan tidak mengeluh.

Hari ketujuh, Sudijah dipindahkan ke Rumah Sakit kedua, Sudijah tampak sedikit lega. Namun ternyata, alergi tersebut menyebabkan fungsi hati Sudijah memburuk. Begitu pun, Sudijah tetap bersemangat.

“nanti kalau aku pulang, kita syukuran ya..”

Selasa, 23 Februari, kondisi Sudijah sedikit membaik, merah dan bengkak di tangan sudah mulai sembuh. Sudijah masih bisa bercanda dan berbicara dengan jelas kepada orang lain. Hanya saja, penglihatan Sudijah mulai tidak jelas. Namun ia tidak sekalipun mengeluh. Tak pernah Sudijah berputus asa, ia hanya ingin segera sembuh.
Kepergian Sudijah yang tiba-tiba sangat mengejutkan bagi setiap orang yang mendengarnya. Siang hari pada 24 Februari itu, Sudijah masih bercerita dan berkata bahwa ia dapat tidur nyenyak. Namun pada sore hari, kondisi Sudijah langsung menurun. Sudijah mulai mengalami halusinasi bahwa ia seperti mendengar suara kakak pertamanya. Anak Sudijah kemudian menelponkan Sang kakak agar dapat mengunjungi adiknya. Sudijah masih sempat minta duduk, berbicara dan menangis ketika Sang kakak datang. Sudijah bahkan berjanji akan sesegera mungkin menemui kakaknya jika sudah sembuh. Tak lama setelah Sang kakan pulang (pukul 20.30), Sudijah semakin tidak sabar untuk pulang, ia sangat ingin pulang ke rumah tercintanya. Anak Sudijah meminta pendapat perawat mengenai permintaan ibunya. Kata perawat dokter mengijinkan. Sudijah mulai tidak sabar untuk pulang. Kemusia, segala masalah administrasi langsung ditangani oleh anak ke-empat Sudijah, sedangkan anak ke-dua dan ke-tiganya langsung pergi menuju rumah, untuk menyiapkan keperluan perawatan Sudijah di rumah nanti. Sudijah di Rumah Sakit ditemani oleh anak pertama, ke-enam dan ke-tujuhnya. Sudijah meminta anak laki-lakinya (anak ke-tujuh untuk mendudukkannya). Sudijah hanya sempat menyebutkan nama anak ke-tujuhnya itu, “Sap..” anak ke-tujuh dank e-enam pun kemudian berusaha aga Sudijah tetap sadar, pipi keriput Sudijah ditepuk-tepuk agar Sudijah tidak tertidur. Namun tampaknya waktu Sudijah sudah tiba. Serta-merta kedua mata Sudijah melihat kea rah atas, tangannya bergetar dan telinga mulai menutup. Anak pertama kemudian memenggil perawat. Seolah-olah tahu apa yang sedang terjadi, perawat yang datang berjumlah dua orang, padahal biasanya, jika ada yang mengebel, hanya satu perawat yang datang. Sudijah langsuung ditidurkan, tubuhnya langsung dipasangi berbagai alat Bantu dan alat pengukur detak jantung. Detak jantung Sudijah masih bagus. Namun begitu, para perawat langsung bergantian untuk memberi bantuan pernafasan dan memompa jangtung Sudijah agar tetap berdetak.

Menyadari apa yang sedang terjadi, anak ke-enam segera menelpon kaka-kakanya (anak ke-dua, ke-tiga, dan ke-empat) agar segera kembali ke kamar ibu mereka. Tak berapa lama semua anak berkumpul kecuali satu, anak ke-lima yang malam sebelumnya mohon izin kepada Sudijah untuk pergi menjalankan tugas di luar kota. Tak berapa lama, perawat kemudian meminta salah satu anak untuk mendoakan Sudijah. Anak ke-tiga langsung berdoa di telinga Sudijah. Membisikan nama Tuhannya.

“Allah.. Allah.. Allah..”

Hanya berselang beberapa menit, setelah anak laki-lakinya (anak ke-dua) menggantikan anak ke-tiga untuk membimbing Sudijah, dan anak ke-tiga yang kemudian membacakan Surat Yasin, Sudijah dengan tubuh yang masih hangat dinyatakan meninggal dunia.




Pada hari itu, Rabu/ 24 Februari 2010 Pukul. 22.18 WIB, Sudijah berpulang.




Ia meninggalkan tujuh anaknya dan17 cucu yang disayangi dengan senyum manis yang meghiasi wajahnya. Tampak tenang, hanya terlihat bahwa ia tertidur nyenyak dengan mimpi indah. Hari itulah, saya kehilangan nenek saya yang selalu menyayangi saya dan cucu-cucunya. Hanya satu pintanya pada saya, agar saya tidak perah lupa mendoakannya.




“Selamat jalan Mbah Putri, InsyaAllah aku akan selalu mendoakanmu”

Rabu, 24 Februari 2010

Awalan

Rabu, 24 Februari 2010

dimulai dengan malam -yang cukup panas- ini, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat sebuah blog yang ringan untuk dibaca. bukan untuk apa-apa, hanya sekedar berbagi mengenai dunia kecil yang saya miliki saat ini. tak ada tenggat waktu atau periode menulis tertentu, hanya membiarkan otak bernyanyi dan jari-jari mengalun lembut di atas keyboard
komputer untuk merangkaikan kata-kata agar dapat mendeskripsikan hal-hal yang terlintas di hati maupun di pikiran.