Senin, 10 September 2012

Air Mata

Sering kali air mata adalah satu-satunya teman yang tidak mau diajak berkompromi.
Mengalir dengan deras sekehendaknya sendiri.

Kedatangannya adalah kejutan besar untukku. Setelah enam kali berganti bulan, hatiku kering karena isinya mulai terserap rindu. Tak jarang aku bersujud lebih lama untuk berdoa pada-Nya, Sang Penguasa Kalbu.

Bagaikan orang yang telah lama hidup tanpa cahaya, dia adalah matahariku. Memberi banyak cahaya dan membiaskan warna pelangi yang menghiasi hari-hariku.

Melihatnya setelah lama buta membuatku ingin menangis di bandara. Hari ini, lima hari sebelum ia pergi ke negeri Gandhi, aku menangis karena harus melepasnya pergi sebuah kota lainnya.

Air mata tidak pernah berkata-kata, mengalir begitu saja. Layaknya kasih sayang dan cinta.

Minggu, 12 Agustus 2012

Puasa

Apakah arti puasa? Puasa menahan lapar, puasa menahan haus, dan menjaga prilaku..

Sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan oleh Tasya ini membuat saya berpikir. Puasa tampak sangat mudah dijalani, menahan haus, menahan lapar, dan berperilaku baik. Lalu, kalau semudah itu, mengapa Allah memberikan pahala yang besar bagi orang yang berpuasa ya?

Saya teringat, hewan yang paling buas adalah hewan yang kehausan dan kelaparan, begitu juga manusia. Manusia yang mudah berperilaku buruk dan mudah kehilangan kontrol diri adalah manusia yang lapar dan haus. hal ini menjadikan makan dan minum sebagai kebutuhan utama manusia. Manusia yang kenyang mampu berpikir secara optimal. Manusia yang kenyang lebih mudah mengontrol perasaan. Manusia yang kenyang memiliki tenaga untuk beribadah. Oleh karena itu, penghilangan rasa kenyang akan mempersulit manusia untuk memunculkan sifat-sifat terbaik dari dirinya.

Secara psikologis, hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan Teori Motivasi dari Maslow. Makan dan minum merupakan kebutuhan fisik yang merupakan kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan fisik ini merupakan dasar anak tangga untuk memenuhi kebutuhan lain yang dimiliki manusia.

Manusia yang lapar dan haus akan menemui kesulitan yang lebih besar daripada manusia yang kenyang. Manusia yang haus dan lapar memiliki tantangan mendasar supaya tetap dapat berperilaku baik, supaya dapat mengontrol diri dengan baik, supaya tetap dapat beribadah dengan baik dan supaya tetap mampu mengaktualisasikan dirinya. Inilah ujian puasa sebenarnya, ketika manusia berada dalam kondisi di mana kebutuhan dasar saja tidak terpenuhi, mampukah manusia tetap bersabar, tetap berbagi, tetap beribadah, tetap bekerja, dan tetap mengingat Allah? Maka tidak mengherankan jika manusia yang beruntung adalah manusia yang mampu melewati bulan Ramadhan dengan baik, manusia yang tetap mampu mengendalikan diri serta mengaktualisasikan diri ketika kebutuhan dasar pun belum terpenuhi. Itulah manusia yang akan mendapatkan kemenangan di hari raya Idul Fitri. Manusia-manusia yang mendapatkan berkah ramadhan adalah manusia yang mampu menaklukkan rasa lapar dan dahaga serta tetap berperilaku baik.


Rabu, 16 Mei 2012

Anak-anak di India

Semua orang dewasa di dunia ini pernah menjadi seorang anak kecil. Tidak perduli dari mana asalnya, semua orang dewasa pasti pernah menjadi anak-anak.

Ini adalah hari ke-11 saya menjadi trainee di sebuah sekolah di kota Jogjakarta. Jadwal trainee hari ini menempatkan saya untuk belajar di lapangan, yaitu Red Class. Red class adalah sebuah kelas di tingkat pre-school untuk anak usia 2 - 3 tahun dan 1 - 2 tahun (Red-baby). Hari ini adalah kelas Red untuk anak usia 2 - 3 tahun. Pada setiap harinya terdapat dua kelas Red yang diselenggarakan. Kelas pagi dan kelas siang. Jumlah rata-rata siswa adalah 20 anak.

Luapan rasa senang memenuhi hati saya. Melihat anak-anak dengan mata bulat memandang saya ketika saya diminta berkenalan. Dengan serempak mereka mengulangi perkataan guru kelasnya, "Good morning, Miss. What is your name?" Manis. Beberapa anak yang tampak cukup berani langsung mendekat, memandangi saya ketika saya mulai berbicara. Ternyata ada satu hal yang menarik perhatian mereka. Kawat gigi saya. Ya, power chain saya kali ini berwarna Pink Neon. Bukan warna yang tepat.

Hari ini adalah hari untuk assessment materi 'shapes'. Guru kelas meminta saya untuk mengawasi anak-anak bermain sementara satu per satu dari mereka akan dipanggil oleh guru. Saat itu, anak-anak yang berani mulai mendekat dan bercerita tentang hal-hal yang menarik bagi mereka. Ada seorang anak perempuan keturunan China yang memiliki mata bulat yang berkata pada saya, "Miss, nanti aku mau kasi liat ke mama. Aku mau kasih liat Miss yang balu.." Lucu dan polos, Ching-ching panggilannya.

Di kelas siang, anak-anak yang menjadi peserta kelas red lebih beragam. Ada Bebe si bule berkulit putih, seorang anak keturunan bangsa Afrika yang tidak pernah berbicara, sebagian anak keturunan China, anak-anak keturunan masyarakat lokal (Indonesia) dan seorang anak yang menarik perhatian saya, Juhi, anak perempuan keturunan India.

Juhi. Badannya kecil, tinggi dan langsing. Rambutnya panjang, matanya bulat, berbulu mata lebat dan lentik, alis mata tebal, bibir mungil, menggunakan dua buah gelang tangan, dan sebuah gelang kaki. Juhi fasih berbahasa Indonesia dan sangat suka menyanyikan lagu 'Twinkle-twinkle Little Star'. Dia yang saya tanya , "Can you speak Hindi?" dan menjawab, "Ngga bisa, Miss".

Saat melihat Juhi, saya teringat anak-anak India lainnya yang saya temui saat saya pergi ke India. Saya tidak memperhatikan prosentasenya, tetapi dapat saya katakan, saya melihat banyak anak di India, khususnya di New Delhi dan daerah sepanjang jalan menuju Agra yang bekerja. Beberapa anak saya lihat bekerja menjajakan chai (teh susu ala India), ada juga beberapa anak yang menjajakan permen karet, dan beberapa lainnya saya lihat mereka sedang bekerja memindahkan pasir dari satu ke tempat lain dengan mengankatnya di kepala. Saat saya tanyakan kepada pacar saya, dia bercerita bahwa hal itu adalah hal yang umum terjadi di India. Jika dibandingkan dengan kondisi anak-anak di Indonesia, khususnya Jogjakarta, kondisi anak-anak di India lebih buruk. Mereka mengenakan pakaian lusuh, wajah mereka tampak lebih kotor, mata mereka juga menyiratkan rasa lelah yang seharusnya belum dirasakan oleh anak seusia mereka.

Saya tidak berbicara data, saya hanya berbicara rasa. Menurut saya, tidak semestinya anak-anak usia di bawah umur merasakan  apa yang dirasakan oleh anak-anak India. Usia mereka semestinya dihabiskan untuk bermain dan belajar. Makanan yang sehat, tempat tinggal dan pakaian yang layak serta pendidikan yang baik adalah hal-hal yang semestinya mereka dapatkan. Ibarat tanaman, mereka adalah tunas muda yang dipaksa berbuah. Sekali lagi alasannya adalah kemiskinan. Pendidikan dirasa mahal, kemungkinan pola pikir yang terjadi adalah, "Daripada sudah bersekolah tidak juga mendapatkan pekerjaan yang baik, lebih baik bekerja saja semenjak anak masih kecil". Kalau sudah begitu, idealisme tentang perkembangan anak akan sangat mudah dipatahkan. Langkah solutif berupa pendidikan gratis atau pendidikan murah ternyata belum berhasil secara mutlak. Kemungkinan mereka berpikir, "Daripada waktunya dihabiskan untuk bersekolah, lebih baik bekerja menghasilkan uang. Ya, kemiskinan. Kemiskinan membuat seseorang sulit berpikir panjang. Mereka sulit untuk berinvestasi di masa depan karena mereka sendiri masih harus berjuang untuk hidup di masa sekarang. Korbannya adalah anak. Anak dijadikan 'tenaga' tambahan untuk menghasilkan uang.

Sekelumit cerita lain tentang anak di India yang berkaitan dengan kemiskinan adalah perbandingan jumlah anak laki-laki dengan anak perempuan yang ternyata lebih banyak anak laki-laki. Hal ini bukan karena kemiskinan mampu menyebabkan angka bayi laki-laki yang lahir sangat tinggi, namun konon katanya, bayi perempuan yang lahir di keluarga yang kurang mampu, terpaksa 'tidak dilanjutkan' kehidupannya. Miris.
Adat di India membuat anak perempuan yang hendak menikah mengeluarkan biaya yang sangat besar, untuk mas kawin dan lain-lain. Oleh karena itu, sebuah keluarga yang tidak mampu lebih memilih kelangsungan hidup anak laki-laki daripada kelangsungan hidup anak perempuan.

India adalah negara yang cukup kontradiktif (menurut saya). Orang kaya bersanding dengan orang miskin, daerah kumuh terpapar di hadapan kawasan pertokoan. India. Sebuah negara berkembang yang unik. banyak cerita berkaitan kehidupan sosial yang mampu mengkayakan hati saya.

Juhi, entah dia pernah menginjakkan kaki di India atau belum, dia adalah anak keturunan India yang beruntung. Bersekolah di sekolah yang cukup mahal, mengenakan pakaian yang layak dan sebagai anak perempuan, ia masih hidup. Juhi, bersyukurlah.

Minggu, 13 Mei 2012

Fakta Baru Tentang Cinta (ku)

Seseorang yang tidak dikenal berkata: 
Love will always find a way.

Inilah fakta tentang sesuatu hal abstrak bernama cinta. Cinta mengikuti perkembangan zaman, cinta berevolusi mengikuti perkembangan suatu masa. Cinta di jaman sekarang cukup kreatif, ketika tidak bisa bertemu muka, ia memanfaatkan teknologi yang ada. Cinta juga mampu bertahan dalam segala cuaca. Cinta tidak mengenal perbedaan waktu Indonesia dengan India. Seperti semut yang mengetahui letak gula, cinta dapat menemukan sepasang manusia yang menjadi targetnya. Itu lah cinta, sebuah rasa yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Cinta adalah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba, tidak dapat ditolak meskipun terhalang batas negara. Cinta, dia yang mempertemukan dua hati manusia.

Satu tahun berlalu, cinta tetap menggebu. Perbedaan tempat dan waktu tidak membuatnya membatu. Seperti itu. Aku dan kamu.



I wanna grow old with you.

Senin, 06 Februari 2012

India: Awal dari 10 Hari Yang Mengagumkan



Bagai siang hari yang terik kemudian bertemu dengan rintik hujan, dihidangkan warna-warni pelangi sebagai pelengkap menu santapan. Hari itu, 17 Januari 2012, saya mendapatkan izin untuk pergi ke Negeri Sungai Gangga, India. Saya dapat menemuinya. Riang gembira, hembusan napas mengeluarkan gula-gula kapas yang wangi dan berseri-seri. Bintang-bintang menari di dalam hati. Senang sekali rasanya, saya akan dapat menemui kekasih hati yang sudah enam kali purnama hanya dapat disentuh saat mata tertutupi mimpi. Saya ke India, menemuinya.
Maju mundur jadwal keberangkatan, masa pembuatan passport yang secara ajaib dapat diselesaikan dalam semalam, pro dan kontra dari keluarga besar yang membuahkan aliran air mata dan kemarahan, masa packing yang membingungkan dan pergulatan dengan kenyataan meninggalkan zona nyaman, semua terlewati. Diputuskan, 24 Januari 2012 saya akan mendarat di India.
Perjalanan menuju India tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berburu tiket kereta api untuk tanggal 22 Januari 2012 yang notabene merupakan long weekend merupakan cerita menegangkan tersendiri. Nyaris tidak ada lagi tiket menuju Jakarta, tetapi takdir dan kemudahan dari Allah, Tuhan semesta alam raya belum berhenti, pukul 17.00, tanggal 20 Januari, tiket kereta eksekutif Argo Dwipangga tambahan berhasil digenggam. Selanjutnya, tugas saya yang tersisa adalah menata keberanian hati untuk bepergian sendiri.
Tanggal 22 Januari 2012, pkl. 22.50, Stasiun Tugu. Kereta melaju membawa saya menuju stasiun Gambir yang berada di Ibu kota. Di ibu kota saya menginap di rumah seorang kerabat dari tanggal 23 januari pagi hari hingga tanggal 24 Januari 2012. Pukul 08.00, di dalam DAMRI menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, terminal 3, saya memantapkan hati sekali lagi. Ini kali pertama saya bepergian dengan pesawat seorang diri, ke luar negeri. Bismillahirrahmanirrahiim, seketika saya yakin bahwa saya tidak sendiri. Allah berada sangat dekat dengan saya , menjaga saya dan senantiasa melindungi saya.
Melalui proses check-in, proses pengurusan visa, makan pagi agak kesiangan sendirian, akhirnya saya “FIX” berangkat ke India. Perjalanan menuju India memakan waktu yang cukup lama. 2 jam perjalanan udara ke Bandara Internasional Kuala Lumpur, transit selama kurang lebih 2,5 jam di bandara yang berisi banyak orang India dan orang China,  lalu melanjutkan penerbangan ke New Delhi, India selama kurang lebih 5,5 jam.
Melintasi beberapa negara dan perbedaan zona waktu, saya tiba di Indira Gandhi International Airport, New Delhi, India. Saya mendarat pkl. 20.10 waktu setempat, masih di hari yang sama, hari ke-24 di bulan Januari.
Membereskan urusan Visa On Arrival, mengambil barang-barang kemudian mengalami keterkejutan perubahan lingkungan yang dialami kurang dari 24 jam membuat saya kehilangan kemampuan berkata-kata dan berpikir rumit. Saya tidak tahu apa yang orang-orang India itu bicarakan.
Saya sempat dimarahi petugas bandara karena saya tidak memperhatikan adanya antrian dan berjalan begitu saja. Ini adalah mekanisme pertahanan diri, saat itu saya sedang  mengalami dislokasi dan kesulitan dalam pemetaan ruang sehingga saya meminta tolong kepada seorang supervisor keamanan untuk menunjukkan kepada saya di mana tempat mengambil barang, saya berjalan tanpa memerhatikan kondisi sekitar. Haha! Bodohnya! Setelah meminta maaf, saya segera melanjutkan perjalanan, mengikuti arah jalan dari punggung Tuan Supervisor Keamanan Bandara.
Tadaaaa...! Sampailah saya pada tempat pengambilan barang. Barang-barang saya tampak bosan. Saya rasa barang-barang saya sudah berputar berkali-kali di atas roda-roda berjalan menanti untuk segera ditemukan.
Oya, selama perjalanan dari pesawat (setelah mendarat) ke tempat pengambilan barang-barang, saya bertemu dengan orang-orang Indonesia. Serombongan laki-laki dari usia muda hingga paruh baya dan dua orang dewasa yang saya jumpai di bagian imigrasi bagian urusan visa on arrival. Rasanya lega melihat ada orang satu bangsa di suatu negara asing. Sedikit berbincang. Rombongan laki-laki dengan rentang usia bervariasi yang mengenakan pakaian yang mencirikan suatu agama tertentu itu datang ke India untuk belajar ilmu agama, sedangkan dua laki-laki dewasa yang berasal dari Semarang dan Bali itu datang ke India untuk menghadiri acara pameran kesenian di New Delhi.
Setelah satu jam yang panjang dari prosesi pendaratan pesawat hingga pengambilan barang-barang, saya akhirnya bisa bernafas sedikit lega. Masih ada sisa helaan napas yang tersumbat di kerongkongan, kekhawatiran mencari Gate 5. Berjalan tidak sabar saya mengikuti arah berjalan serombongan orang. Mereka menuju Gate 6. Saya layangkan pandang ke arah kanan, Gate 5!
Bagaikan gerbang surga yang dikhususkan untuk jalan saya, Gate 5 yang dijaga dua orang berseragam polisi, tersenyum penuh makna. Seketika kepercayaan diri saya meningkat, keyakinan saya melampaui batas, hati saya memberi tahu otak saya bahwa seorang laki-laki sudah menanti tidak sabar di balik kaca Gate 5. Dia, kekasih hati saya.
Saya dorong trolli barang bawaan saya dengan tergesa-gesa. Sedikit bingung saat memilah-milah wajah para penjemput yang seluruh pandangannya tertuju pada saya. Pintu kaca terbuka secara otomatis dan BING BANG! Di sana lah dia berdiri. Tersenyum lebar penuh arti. Dialah sang kekasih hati.
Rasa-rasanya tidak percaya, saya berjalan canggung karena hati dipenuhi kebingungan untuk menunjukkan emosi. Emosi manakah yang tepat untuk saya tunjukkan padanya? Senang yang meluap-luap, rasa haru, rasa lega, rasa tidak percaya atau rasa yang mana? Tanpa saya sempat memutuskan emosi mana yang akan saya sajikan, saya sudah berjalan ke arahnya, tanpa sadar saya tersenyum lebar sambil memandanginya. Dia, di depan saya.
Saya lupa bahwa saya berada di sebuah negara asing hingga akhirnya sapuan angin dingin menerpa tubuh saya yang sudah saya balut dengan 2 jaket yang saya rasa cukup tebal. Bergidik, dia menyadarinya. Diberikannya sepasang sarung tangan bewarna cokelat untuk menghangatkan tangan saya. Masih tersenyum, kami berjalan dengan pandangan yang sama, pandangan tidak percaya. Takjub. Kami sama-sama tidak menyangka akan bertemu di saat itu, di negara ini. Negara ajaib yang sebagian wilayahnya beiklim sub tropis, sebagian lainnya beriklim tropis dan sebagian lagi memiliki iklim di antara keduanya.
 Enam bulan lamanya tidak bertemu tatap muka secara langsung membuat saya sedikit terpaku, mengamati seberapa banyak perubahan yang terjadi pada dirinya. Rambutnya lebih panjang dari yang saya duga, wajahnya lebih kurus daripada saat saya pandangi melalui layar, dan tentunya tangannya yang dingin karena dia telah menunggu kedatangan saya selama satu jam lamanya di ruang terbuka di depan pintu-pintu bandara. Bahagia.
Saya rasa, wajah saya saat itu berbinar lebih terang daripada lampu-lampu yang ada di bandara. Begitu juga dia. Pancaran rasa bahagia menghangatkan tubuh kami yang diterpa angin dingin bersuhu +/- 5 derajat Celcius. Cinta, cinta memang menembus batas, bahkan suhu udara.
Berbincang mengenai bagaimana perjalanan saya, kami bergandengan tangan sambil berjalan menemui seorang kawan berdarah India yang menemaninya menjemput saya. Tidak belama-lama di depan bandara, setelah mengambil beberapa foto berdua, kami mencari sebuah taksi. Rs 400,- adalah harga yang diminta pengemudinya, sekitar Rp 80.000,- dalam kurs rupiah. Taksi yang dipilihnya adalah taksi asli India yang pernah saya lihat di Film “Eat Pray Love” yang ditumpangi Liz saat menuju Ashram di India. Tidak berbeda dengan gambaran film itu, taksi itu mulai berjalan menembus jalan raya yang dipenuhi suara klakson segala jenis kendaraan yang mulai menyapa indra pendengaran saya. Memasuki jalan di kota, saya mulai melihat sapi-sapi beraneka ukuran berjalan melenggang dengan santai di antara hiruk pikuk kendaraan bermotor maupun tidak bermotor. Anjing-anjing juga tidak kalah bergaya, berlari di sepanjang jalan dan beberapa dari mereka tidur-tiduran di tepi jalan, mungkin kelelahan. Sampah dan debu tampak berkeliaran dengan bebas, membuat saya menutup hidung dengan syall yang saya gunakan, saya takut organ penciuman saya terkena serangan udara kotor yang terlalu mengejutkan. Ini lah, India. Saya akhirnya menjejakkan kaki di negeri asing di mana manusia, kendaraan, hewan dan tumbuhan membentuk suatu harmoni tersendiri.
Pada akhirnya, sampailah kami di tempat saya akan tinggal. Sebuah gedung di kompleks pertokoan. Duduk-duduk sebentar dan memutuskan bahwa kami akan mengakhiri hari ke-24 dan menyambut hari ke-25 di bulan Januari dengan bersantap malam bertiga, makanan pesan antar sebuah restaurant bergambar seorang kakek tua mirip Santa Claus mengisi perut-perut kosong yang merindukan hangatnya asupan energi. Setelah makan, rasa tidak percaya yang masih kami alami dipuaskan dengan perbincangan ringan hingga pkl. 03.00, berdua. Maih kurang rasanya, tetapi kami terpaksa segera tidur karena pada pkl. 07.00 akan datang sebuah mobil sewaan yang akan membawa kami ke Taj Mahal, Agra, India.
Saya, dia, dan India. Sebuah pengalaman yang tidak akan saya lupakan.



(Indira Gandhi International Airport, New Delhi, India)

Minggu, 08 Januari 2012

SCS

They say the best people come in your life when you least expect it.
My heart ached and the you came, taught me how to love.
I didn't even notice how I fell in love with you.
With every part of you.
"I'm not afraid to show my emotions, to be honest, to be vulnerable. True love deserve that". -Anonim

Jumat, 06 Januari 2012

Terasa Asam

Dia seorang teman baru yang bahkan belum pernah saya temui. Saya mengenalnya melalui dunia maya. Dua orang yang benar-benar asing. Kami berkenalan karena sebuah kondisi tertentu dan belum pernah bertatap muka. Beberapa kali kami bertukar cerita, saya merasa dekat dengannya. Saat itu kami memiliki nasib yang sama. Berpacaran dengan orang Indonesia yang menuntut ilmu di India. Sebuah hubungan jarak jauh.

Saya membaca beberapa tulisan yang dibuat untuk lelaki yang dikasihinya. Sederhana namun menyentuh hati saya. Saya banyak berdoa supaya mereka dapat bersama. Sayangnya, suatu hari pacar saya memberikan kabar bahwa hubungan mereka tidak selancar harapan saya.

Hingga saat ini, saya sering membuka akun twitter mereka berdua, memastikan jika ada komunikasi di antaranya. Nihil. Saya merasa kecewa. Haha, siapa saya? Bukan siapa-siapa.

Rasanya asam. Seakan ada jeruk nipis yang dijejalkan di kerongkongan saya. Seakan saya ikut merasa putus cinta. Sesak. Sekarang.

Rabu, 05 Oktober 2011

Bahasaku Bahasamu

Sore ini, masih terbaring di tempat tidur tanpa pekerjaan berarti, lalu saya putuskan untuk membuka-buka twitter.. Salah satu account twitter yang saya follow tampaknya sedang merasa marah terhadap suatu hal yang mengganggunya. Saya telusuri awal mulanya.. Ternyata ada seorang pengguna twitter lain yang memberi komentar tulisannya dengan kata "Oxymoron".

Saya telusuri pemilik account yang memberi komentar, kita beri dia inisial HFH dan account yg marah-marah karena diberi komentar adalah FB. HFH merasa, penggunaan kata "Oxymoron" itu berarti dua kata yang digunakan bersamaan yang memberi arti yang kontradiktif, contohnya: "sumbangan wajib", "cruel kindness", dll.. Sedangkan pihak yang merasa terserang (FB) merasa bahwa kata "oxymoron" itu memiliki arti lebih-lebih-lebih dari kata "moron" (tolol). Dua hal tersebut memperlihatkan bahwa ada perbedaan pemahaman atau definisi yang digunakan oleh kedua pemilik account tersebut. Hasil ketidaksepahamannya adalah "tweet war" atau "perang tweet".

Saya mendadak teringat kepada salah satu bab yang dibahas dalam mata kuliah Psikologi Umum (sekarang diberi nama Psikologi Dasar) di semester satu tentang "Thinking and Language". Kenyataannya, dalam mempelajari jiwa manusia, ilmuwan psikologi tidak dapat mengesampingkan adanya peranan bahasa dalam perkembangan masa hidup manusia.

"Language is a form of communication, whether spoken, written, or signed, that is based on a system of symbol." -Santrock, 2005.

Pengertian tersebut telah menjabarkan kepada kita mengenai pentingnya bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Manusia membutuhkan bahasa untuk berbicara kepada manusia lain, mendengarkan manusia lain, membaca, dan menulis (de Boysson-Bardies, dalam Santrock, 2005).

Bahasa juga memiliki peran sebagai penyampai pesan dari satu generasi ke generasi selanjutnya yang akan menciptakan kekayaan budaya, menggambarkan adanya peristiwa lampau dan rencana-rencana masa depan, yang tidak hanya berdampak pada pemikiran kita sendiri tetapi dapat juga berdampak pada dunia.

"Language is virtually an unbounded symbol system, so it is capable of expressing most thoughts. At the same time, language is the way we humans communicate most of our thoughts to each other. We do not always think in words, but our thinking would be greatly improvised without words." -Santrock, 2005.

Hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan pentingnya penggunaan bahasa adalah bahwa memori tersimpan bukan hanya dalam bentuk suara atau gambar tetapi juga dalam bentuk kata-kata. Adanya bahasa membantu manusia untuk berpikir, membuat interfensi, mengatasi pilihan yang sulit, dan memecahkan masalah (Amsel & Byrnes, dalam Santrock, 2005). Bahasa dapat dianggap sebagai alat untuk merepresentasikan ide/gagasan seseorang (Gentner & Lowenstein, dalam Santrock, 2005). Para peneliti juga mengatakan bahwa bahasa dapat mempengaruhi pemikiran manusia.

Intinya, menurut saya kesepahaman bahasa antara dua orang atau lebih itu mutlak diperlukan untuk menghindari terjadinya salah paham dalam suatu hubungan. Dapat kita bayangkan bahasa yang dimiliki ibu dan anak balitanya yang terkadang terdengar seperti bahasa asing untuk orang lain tetapi dapat menjadi alat komunikasi efektif untuk ibu dan anak tersebut. "Dudugagagigu.." dapat dimaknai ibu yang terbiasa mendengar sebagai permintaan terhadap susu, sedangkan bagi orang lainnya kata-kata yg dikeluarkan si anak hanya dianggap sebagai kata-kata yang tidak berarti.

Nah, adanya bahasa seharusnya menjadi alat yang dapat menjadikan kehidupan ini menjadi lebih baik. Mungkin ada baiknya, saat terjadi kesalahpahaman antara dua orang atau lebih yang terkait dengan bahasa, dapat ditanyakan dulu, "Maaf, sebenarnya apa yang kamu maksud dengan blablabla..?" agar dunia ini damai dan bahasa menjadi alat komunikasi yang efektif dan efisien dalam menggambarkan gagasan yang dimiliki seseorang.



Sabtu, 20 Agustus 2011

Saat Roda-roda Merasa Cemburu

"Roda kehidupan selalu berputar", begitu kata orang. Tidak hanya roda kehidupan, aku adalah roda sepeda yang juga selalu berputar. Bersama dengan rekanku, aku membantu pemilik sepeda untuk bergerak di atas sepedanya dengan rasa gembira. Sesekali jalanan terjal, sesekali bergelombang, tak dapat diprediksikan. Siapa yang mampu memprediksikan kondisi jalanan? Tidak ada, semua rahasia Tuhan.

Satu masa, aku berpisah dengan rekan pertamaku, kemudian bertemu dengan rekan kerja yang kedua, dan yang ketiga. Kami lah sepasang roda yang membantu jalannya sebuah sepeda. Pergantian rekanan terkadang menjadi hal yang biasa meski perpisahan kerap menggoreskan luka.

Suatu ketika saat aku bersama partner rodaku yang lama, sepeda kami bertemu dengan sepeda lainnya. Kami berjumpa dengan roda-roda lainnya. Tahu, hanya sekedar tahu. Roda itu bersama roda ini bekerja sama dalam satu waktu. Tak disangka, ketika roda ketiga yang menjadi pasanganku dipindahkan, aku sendirian. Sepedaku tak lagi berjalan di jalan raya. Belum ada roda pengganti yang dipasangkan denganku untuk bekerja sama. Lama tak terkira. Beberapa kali pemilik sepeda berusaha menghadirkan roda-roda lainnya, tidak sesuai rupanya. Hingga datang sebuah roda yang pernah kukenal. Roda yang saat itu aku berpapasan dengannya.

Roda itu, ternyata dia akhirnya yang dipasangkan denganku. Malu-malu, kami mulai berkompromi tentang cara kami berputar. Agar seirama, agar membentuk harmoni roda sepeda yang mempesona.

Sesekali waktu saat kami berputar bersama di jalan raya, kami temui mereka, roda-roda lama yang pernah menjadi rekan kami di bawah sebuah sepeda. Cemburu! Itu namanya. Kulihat bayang masa lalu roda yang kini menjadi rekanku berusaha bersama dengan roda ini dan roda itu melintasi jalan raya. Sakit. Angin di rodaku berkurang. Aku merasa lelah. Pemilik sepedaku menyadarinya dan segera memompa.

Saat aku di pompa, pemilikku sering berkata, "Tegar, kuat, dan sabar rodaku. Jangan beratkan laju sepeda ini karena sakitmu. Bekerja samalah dengan baik dengan roda yang satu. Tak lihat kah engkau? Saat kau tak berjalan dengan kondisi prima, begitu juga dia. Berat baginya berjuang sendirian. Berat baginya menanggung beban sepeda ini, berat lagi karena dia harus menarikmu untuk sampai ke tempat memompa sepeda. Kuat lah rodaku, jaga hatimu". Pemilik sepeda tahu, aku cemburu. Malu.

Kubuka mataku, kulihat rekan rodaku di depanku. Dia adalah roda depan sepeda ini, memandangku dengan tatapan emas, khawatir aku mengalami luka parah sehingga harus diganti dengan roda yang lainnya. Sekilas adegan lama. Kuingat saat kami melintasi jalan bersama, bahagia. Kami tertawa sambil berputar, mengikuti ke arah mana sepeda berjalan. Menikmati semilir angin yang sama, menikmati percikan air di genangan. Cih! Aku merepotkannya, dia yang berarti bagiku. Jalan lama telah terganti dengan yang baru, tak ada waktu untuk cemburu. Roda kehidupan berputar bersama kami, menantang kami untuk berani berlaga menopang sepeda ini. Hari ini hingga nanti.

Minggu, 12 Juni 2011

Kasih-Nya Melalui Kamu


"Tuhan ada di dalam manusia-Nya".

Sepenggal kalimat yang pernah saya dengar dalam sebuah kitab.

"Tuhan berada sangat dekat, sedekat urat nadi di lehermu".


Begitu juga kalimat yang saya dengar selanjutnya.

"Jika Tuhan memang dekat, di manakah Dia? Bagaimanakah wujud-Nya?"

Dia lah Dzat yang ghaib.. Tak terlihat tetapi dapat dirasakan keberadaan-Nya. Mengimani-Nya memerlukan kecerdasan tingkat atas. Seperti yang diutarakan Piaget, dalam tahapan perkembangan kognitif tingkat paling atas dari perkembangan kognitif manusia adalah kemampuan berpikir abstrak. Tuhan adalah Dzat yang abstrak (ghaib). Tak dapat disentuh, tak dapat dilihat, tak dapat dicium, tak dapat didengar ataupun diraba. Tuhan ada jika kita merasa. Maka dapat saya tarik kesimpulan, Tuhan ada bagi mereka yang berakal dan mampu menyadari keberadaan-Nya.

Mengetahui keberadaan Tuhan ternyata sangat mudah. Baru-baru ini saya menyadarinya. Baiklah, dapat dikatakan saya cukup terlambat untuk menyadari keberadaan Tuhan diantara manusia. Saya memerlukan 22 tahun mencari-Nya. Baru kemudian beberapa hari yang lalu saya menemukan betapa Tuhan sangat dekat dengan saya.

Begini ceritanya..

Suatu hari saya membaca dalam sebuah buku -maaf saya lupa buku yg mana- bahwa salah satu tugas manusia adalah merepresentasikan keberadaan Tuhan. Saya pikir betul juga. Tuhan saya Yang Abstrak dapat "terwujud" di dunia yang nyata ini dengan perantara manusia. perilaku manusia yang mengikuti ajaran Tuhan akan menunjukkan perilaku Tuhan. misalnya saja ketika kita memberi kepada sesama. Ingatkan? Tuhan memiliki sifat Pengasih dan Penyayang, maka dari manusia yang memberi itulah kegemaran Tuhan "terwujudkan". Ketika kita berlaku adil kepada manusia yang lain, perilaku kita "mewujudkan" sifat Tuhan Yang Maha Adil. Dan lain-lainnya..

Bentuk abstrak dari Yang Abstrak adalah kasih Tuhan.
Lalu, bagaimana kita merasakannya?

Ini lah yang salah satu bentuk yang saya temukan..
Melalui dia, seorang laki-laki biasa yang sebenarnya tidak banyak berbeda dengan lelaki pada umumnya, saya merasakan kasih Tuhan. Melalui laki-laki yang kuat dan lembut disaat yang sama inilah saya merasa kasih Tuhan dipresentasikan dengan baik -saya tidak mengatakan dengan sempurna. Laki-laki ini tidak pernah saya prediksikan untuk dapat menjadi yang istimewa, tetapi ternyata laki-laki inilah yang dapat membuat saya lupa bahwa di dunia ini ada lebih dari seratus juta laki-laki lainnya. Melalui laki-laki ini, saya melihat kasih-Nya dan keajaiban-Nya.

Tujuh tahun lalu, kami hanya mengenal nama. Membayangkan berteman saja tidak apa lagi dapat berbagi kehidupan yang sama. Dia hanyalah salah seorang teman sekelas di tempat saya mengikuti suatu bimbingan belajar tambahan. Singkat cerita, dua bulan yang lalu entah mengapa dia meminta kontak saya. Pun jika ditelusuri jejaknya, kami tidak banyak melakukan interaksi dua arah. Sebatas tahu. Ya, itulah cara kerja Tuhan yang ajaib, cara kerja mistis yang tidak dapat direkayasa manusia. Kami berkenalan -mungkin secara resmi kami mulai saling mengenal pada titik ini- dan mulai berbincang. Obrolan ringan, seputar perkuliahan dan masa depan. Mengalir cepat melalui bebatuan terjal. Saling menahan rasa karena ada yang mulai tidak biasa. Bercanda, tertawa, berbagi kegalauan dan kebimbangan tentang rahasia suatu masa di sana. Banyak hal yang ternyata sama. Kebiasaan mengulang menonton film, rencana menikah di usia muda, rancang bangun suatu keluarga, jenis minuman bersoda dan cara meminumnya, dan terakhir ternyata kami memiliki jenis sepatu yang sama.

Satu kesepakatan, merapikan masa lalu kemudian datang saat sendirian. Satu bulan setelah berkenalan -ulang- kami berikrar. Dengan cara tidak biasa kami memulai semuanya. Saya duduk di kamar di depan laptop, dan begitu juga dia. Ketidaksengajaan yang disengaja Tuhan terjadi lagi, malam itu kami sama-sama berpakaian warna merah tanpa ada kompromi sebelumnya. Ikrar sederhana untuk mulai saling menjaga hingga saat yang besar tiba. Saya dan dia berubah menjadi "kita".

Sungai malas mengalirkan airnya yang jernih, satu bulan bersama banyak kenangan yang mulai menjadi pupuk dari benih kasih -inilah yang kemudian saya rasakan sebagai kasih Tuhan.

Tuhan sangat menyayangi saya sehingga tidak menginginkan saya sendirian. Tuhan mengirimkan dia melalui sebuah kesengajaan yang dirahasiakan. Kedatangannya membawa rasa syukur yang begitu besar, sebesar rasa syukur saya atas ijin Tuhan untuk nyawa yang masih disematkan. Kedatangan laki-laki ini seperti perwalian dari Tuhan yang menginginkan umat-nya dijaga dengan baik, mendapatkan kasih sayang yang lembut, mendapat pengertian, perhatian dan rasa dihargai, dengan kata lain mendapatkan kecukupan akan pemenuhan kebutuhan manusiawi. Tentunya dia menunjukkan dengan cara manusianya yang sederhana yang masih penuh keterbatasan jika dibandingkan dengan Kuasa-Nya.

Tuhan mempercayakan kepada saya seorang laki-laki yang tulus -tanpa tendensi apa-apa- memberikan rasa sayang kepada saya dan selalu berusaha menjaga saya dengan caranya. Tuhan begitu mengasihi saya sehingga mempertemukan dengannya yang bersedia mendengarkan saya disaat suka maupun duka, seremeh apapun suatu cerita yang saya punya. Tidak lupa, Tuhan juga menguatkan saya dan dia dengan menjaga kami berdua di tempat yang berbeda.

Melalui kamu, Stevan Chondro Suryono, saya merasa bahwa kasih Tuhan itu nyata.

"Sehalus dan seringan kapas putih yang menyelubungiku, itulah pancaran kasih Tuhan melalui kamu".