Selasa, 05 Oktober 2010

Saudara- Saudari Planet Bumi Jangan Marah

Memandang hampa ke arah kotak kecil bergambar bergerak di depanku.

Kelebatan bayangan berganti satu persatu.

Orang dengan topeng hitam dicirikan sebagai teroris dari suatu agama tertentu.

Orang yang duduk di atas beramai-ramai memperdebatkan penunjukan Kapolri yang baru.

Perayaan Hari Ulang Tahun Tentara Negara Ini memunculkan korban menambah deretan luka pilu.

Kendaraan canggih pengangkut rakyat biasa mengunduh petaka melantunkan nada sembilu.

Mereka yang menduduki bangku teratas di gedung kehormatan sibuk meminta dibuatkan gedung yang baru.

Mereka yang di bawah semakin menjual murah harga dirinya demi sesuap nasi atau sebidang tanah di kampung halaman demi anak cucu.

Mana yang benar? Mana yang salah?

Bagai tersapu oleh debu gurun pasir gersang, semua kebenaran mulai terkubur perlahan.

Pelan.. Sedikit demi sedikit mulai kabur. Tertumpuk dusta manusia yang mulai bertebaran.

Cuaca tak lagi bersahabat dengan kondisi fisik makhluk lautan mau pun daratan.


Panas di siang hari adalah kemarahan dari Galaksi Bima Sakti.

Hujan di malamnya adalah duka lara dari seluruh penghuni alam raya.


Mereka diam dan terus berputar. Mereka menyaksikan setiap adegan dari kejauhan.

Mereka lah Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Pluto yang bukan lagi planet, Bulan, Phobos, Deimos, satelit-satelit alam, asteroid, dan Matahari.

Penghuni alam raya melihat tingkah laku para penghuni Bumi, melihat saudari mereka tersakiti.

Satu negara Ini saja sudah melukai hati Bumi Pertiwi, belum lagi negara-negara di barat atau timur atau selatan atau utara negeri Ini.

Di mana kebencian, kepalsuan dan aneka kesalahan bertebaran atas nama kebenaran.

Mari kita hentikan semua ini, teman..

Jangan lagi kita uji kesabaran dari saudara-saudari planet yang kita diami ini.

Satu saja dari mereka berhenti, maka kita juga berhenti.

Berhenti berbicara, berhenti makan, berhenti minum, dan berhenti bernafas.

Rabu, 29 September 2010

Sebuah Kesempurnaan yang Tidak Sempurna - Manusia

-Everyone makes mistakes and you don't have to be perfect to be loved-


Berbincang seorang kakak di sore ini, "Dek, kamu ga perlu jadi malaikat yang selalu tampak baik. Tuhan hanya menginginkanmu menjadi manusia biasa. Manusia yang tak berdaya sehingga memohon pada-Nya. Setiap kali kamu ingin menjadi malaikat, Tuhan akan mematahkan sayap malaikatmu, berulang kali akan begitu. Kamu diciptakan menjadi manusia, karenanya, kamu boleh salah, ngga harus selalu benar".


Kalimat-kalimat itulah yang menyadarkan aku di sepotong senja, setelah hiruk pikuk kerja mulai sirna dan ruangan yang ramai kembali tenang seolah ikut mendengarkan. Pembicaraan dua anak perempuan itu menguasai ruangan. Di antara tumpukan kertas tes, alat tulis dan deru halus suara pendingin udara yang membuat kami merasa lebih nyaman, kami berkelana pada banyak masa kehidupan. Dibuka dengan sebuah cerita lalu tentang kenaifanku sebagai manusia "tak pernah ingin tampak buruk" atau dengan kalimat lainnya adalah "selalu ingin tampak baik".


Ternyata kami sama, tak hanya aku yang begitu, atau setidaknya dulu kami sama. Entah dipengaruhi budaya atau ajaran keluarga, kami adalah contoh manusia yang ingin selalu tampak bagai malaikat. Senyum ceria, ramah, suka menolong, tidak membenci, serba bisa, pintar, mudah memaafkan, mengasihi setiap makhluk ciptaan-Nya dan yang lainnya, itulah yang ingin kami citrakan pada dunia. Namun setelah kami mampu memahami, dibalik semua hal itu telah tersembunyi kepedihan hati yang bersemayam di bagian gelapnya sisi kehidupan, sebuah bagian kehidupan yang tak ingin kami biarkan setiap orang menyadarinya.


Kepahitan yang ku telan, kemarahan yang ku pendam, rasa benci, iri dan bahkan dendam yang selalu ku redam, semua menyeruak dengan kalimat yang meluncur dari hati kakak cantik itu, "kamu bukan malaikat". Tersadar dari dunia fana ini, entah berapa lama aku menjalani hidup sedemikian rupa agar aku tampak hebat, tampak pintar, tampak perkasa dan tampak tangguh. Entah berapa lama aku menahan tangis, menyembunyikan air mata kepedihan, dan berusaha mengubahnya menjadi tawa, sebuah tawa semu yang tak sempurna. Tawa yang hanya berupa lengkungan bibir yang sempurna dengan sudut-sudut bibir mengarah ke tulang pipi namun tak disertai emosi. itulah tawa yang ku persembahkan kepada semua orang 6 tahun terakhir ini.


Manusia itu sempurna karena dapat berpikir, dapat berlaku sesuai kehendak dan dapat merasakan rasa. Tapi karena hal itu juga lah yang menjadikan manusia tidak sempurna. Manusia bisa merasa marah, bisa menangis dan bisa lemah, tak perduli seperti apa, Tuhan menyukai manusia yang apa adanya. Tuhan menginginkan manusia-Nya bersandar kepada-Nya. Jadilah manusia, manusia ciptaan Tuhan yang terbentuk oleh daging dan tulang, bukannya terbentuk oleh cahaya.

Kamis, 23 September 2010

Terbawa Suara Hujan

Air yang menetes menimbulkan suara di antara malam

Teringat suatu masa di mana rintikannya menjadi latar belakang

Masa ketika aku duduk berlinang air mata bersama seorang teman

Menyaksikan kelebatan adegan demi adegan yang memilukan


Merindukan masa itu..

Masa di mana keramaian adalah sesuatu yang pasti

Walau waktu berlalu..

Masa itu akan tetap menjadi prasasti..


Sebuah tugu memori di dalam hati..


*masa-masa nonton My Name Is Khan bareng Mba Nurul di suatu Jumat malam.. Menanti warga pondokan pulang dari futsal (Mas Andre) dan yang cari makan karena kelaperan (adit, arby, echa)*

Harta Karun dari Masa Lalu: OST. Kobo chan

Di dunia ini semua bisa terjadi dan apa yang akan terjadi

Kita tak akan pernah mengetahui

Marilah kita hadapi pasti ada jalan keluar

Hari ini entah siapa yang akan bahagia

One two three four..

Nippon nippon cha cha cha cha cha

Kobo duduk di atas batu

Nippon nippon cha cha cha cha cha

Tralalallala galileo..

Tiap hari hahahahahhaa

Tawa canda ada di mana-mana

Tiap hari hahahahhaa

Aku benci makan pisang

Nippon nippon cha cha cha cha cha..

Tawa canda selalu ceria

Nippon nippon cha cha cha cha cha..

Bersemangat lah selalu!!!!

Nippon cha cha cha nippon cha cha cha

Nippon chacha cha cha cha cha chaaaa...

Rabu, 22 September 2010

Overestimate: Ketika Cinderella, Aladdin dan Dora Belajar dari Kesalahan

Pernah merasa kecewa? sakit hati? bodoh? sampe-sampe bingung caranya nangis?? Mungkin itu perasaan para komandan yang dikhianati tentaranya, atau presiden yang ditusuk dari belakang oleh menterinya. Merasa salah meletakkan kesalahan, merasa seperti orang yang paling semangat padahal yang lainnya biasa aja..


Terbangun dari mimpi indah, berharap mimpi itu berseri, tapi tenyata sudah harus kembali ke realita. Mungkin akan sama rasanya ketika Cinderella ngga bisa nunjukin sepatunya pada pangerannya karena sepatu itu disembunyiin Ibu peri, atau ketika Aladdin balik dimasukin ke dalam lampu ajaib oleh si Jin warna biru, atau ketika tiba-tiba Dora sadar kalo Boots adalah sahabatnya Swipper.


Hard to believe it...


Gimana perasaan Cinderella, Aladdin dan Dora?

Ketika mereka terbangun dan sadar kalo ternyata mereka telah overestimate -minilai terlalu tinggi- ke orang-orang yang mereka kira penolong, teman seperjuangan, bahkan mungkin sodara (aku selalu mikir kalo Boots adalah adek laki-laki Dora).


Mungkin kalo mereka nyata atau ternyata penulis cerita mereka menulis salah satu episode mirip sama dengan yang aku gambarkan, aku rasa Cinderella yang tegar bakalan diem, duduk, ngga ngerti lagi harus gimana. Cinderella mungkin sulit untuk nangis karena semua akan bercampur dalam hatinya, marah, sedih, malu, dan berbagai macem perasaan yang bisa ngegambarin betapa shock-nya Cinderella atas tindakan Ibu perinya. Aladdin? How about Aladdin? Aladdin bakal lebih parah, dia bahkan ngga akan bisa keluar dari lampu ajaib itu sampe ada orang yang sadar Aladddin ilang, mengira-ira di mana Aladdin ilang, cari-cari keberadaan si Aladdin dan betapa kecil kemungkinan bakal ada orang yang sadar kalo si Aladdin masuk ke dalem lampu ajaib? Boro-boro ketemu Putri Yasmin,, bisa-bisa ga sampe sehari si Aladdin uda berubah jadi Jin juga. Hmm,sekarang Dora. Dora, gimana kira-kira rasanya jadi Dora dengan partener seperti Boots yang ternyata ga punya semangat juang kaya semangat juang Dora? Gimana kalo suatu ketika dengan tiba-tiba di tengah perjalanan mereka ke rumah nenek atau siapa pun si Boots ngerebut ransel Dora dan kasih ransel itu ke Swipper? Gimana Dora bisa nemuin jalan tanpa ada si Peta yang disimpen di ransel? Gimana Dora bisa ambil barang-barang -yang kadang terlalu besar untuk dimsukin ransel dan ga logis untuk dibawa anak kecil seumuran Dora- yang bisa bantu dia mencapai tujuannya?


Pertanyaannya adalah: Apakah Cinderella, Aladdin, dan Dora pernah berpikir, seandainya apa yang ada dipikiran partener mereka itu tidak sama atau mungkin bertolak belakang dengan pemikiran mereka?


Mungkin Cinderella, Aladdin dan Dora lupa perkataan temen mereka:


"We don't see things as they are, we see them as we are." - Anais Nin


Itulah,,mungkin ngga cuma Cinderella, Aladdin dan Dora (episode dongeng gila) mungkin juga aku atau kamu pernah merasakannya..

Melihat sesuatu hal tidak seperti mereka yang sesungguhnya, tetapi kita melihat mereka seperti kita melihat kita. Menggunakan persepsi kita untuk melihat persepsi orang lain sehingga persepsi orang lain tampak seperti persepsi kita..


Persepsi?? apa itu persepsi? tentunya bukan persepsi pernikahan (*resepsi), persepsi adalah cara pandang, atau sudut pandang seseorang yang nantinya akan mempengaruhi banyak hal. Persepsi bisa mempengaruhi cara pikir, persepsi bisa mempengaruhi suasana hati, dan persepsi juga bisa mempengaruhi cara kita bertingkahlaku. Semua karena persepsi. Tentunya ga sesederhana itu, banyak hal yang mempengaruhi persepsi manusia, dan banyak juga efek dari persepsi yang mempengaruhi kehidupan kita.


Semua kejadian seperti si sakit hati, merasa terkhianati, merasa dibodohi, atau rasa marah yang dialami tiga tokoh cerita ini kemungkinan besar dipengaruhi kesalahan persepsi mereka dalam melihat hal yang ada. Bukan salah Ibu Peri, Jin Biru, atau Boots kalo ternyata mereka ngga sepikiran dengan partner mereka. Mungkin memang dari awal mereka berniat seperti itu, cuma si Cinderella, Aladdin dan Dora aja yang keGRan (*Gede Rasa) merasa bahwa tiga makhluk -yang disangka- partner itu sepikiran dan bersedia maju berperang bahkan bersedia berjuang bersama mereka.


Sedih?

Kalo aku jadi salah satu dari mereka, jawabanku adalah,"IYA".

Sudah salah meletakkan kepercayaan, itu yang terlihat dari sisi kita. Tapi dari sisi seberang, apa yang mereka pikirkan? Apakah benar mereka memang menyalahgunakan kepercayaan? Jangan-jangan cuma kita aja yang sok percaya dan kemudian terlukai karena kepercayaan yang kita berikan ternyata tidak pernah diterima oleh mereka dan kemudian kepercayaan yang kita harapkan akan dimanfaatkan secara maksimal oleh pihak yang kita rasa menerima kepercayaan itu berbalik seperti boomerang yang kemudian menyakiti diri kita.


Nah, bagi aku dan mungkin kamu yang pernah merasakan hal ini, hikmahnya adalah jangan terlalu tinggi atau terlalu lebay dalam melihat sesuatu hal, jangan juga kita terlupa untuk mengkonfirmasi apakah pemikiran kita sama, apakah pandangan kita sudah sejalan. Penting untuk diinget juga, jangan pernah memaksakan pandangan karena setiap orang punya keunikan mereka sendiri untuk berkembang. Tapi jangan trauma juga, lebih baik kita bisa melihat ini sebagai pelajaran hidup, jadikan hal-hal tersebut guru kita dalam berjalan sehingga suatu saat nanti kita dapat menceritakan hal ini dengan tersenyum. Kita semakin tegar, semakin kuat karena pernah merasa sakit seperti ini. Well, waspada itu penting, tapi jangan sampai kadarnya berlebihan sehingga membuat kita berhenti melangkah karena ketakutan.


Ingat-ingat pendapatku (kalo mau),

Orang yang bisa menyakiti kita sampai kita merasa sangat tersakiti adalah mereka yang sangat kita percayai dan kita sayangi.

Selasa, 21 September 2010

Kulit, Kacang, Kenangan dan Komunikasi

Dilupakan itu rasanya sakit, tapi berusaha mengingat itu juga sakit. Mungkin rasa penasarannya akan sama dengan perasaan penasaran ketika kita berusaha mengambil upil yang terasa mengganjal hidung namun ternyata kita tidak bisa menjangkaunya.

"Seperti kacang yang lupa pada kulitnya".

Kesan awal dari pribahasa ini rasa-rasanya berarti si kacang melupakan si kulit dan aku jadi kepikiran kalo aja si kulit bisa ngomong, mungkin si kulit bakalan mencak-mencak marah-marah ke si kacang, "Woi,,ko kamu lupa sama aku? Bukannya kita uda bareng-bareng dalam waktu lama?". Tapi kenapa ga begitu? Kenapa ga ada pribahasa:

"Seperti kulit yang marah pada kacang"?

Apa bener murni gara-gara si kulit ga bisa ngomong? Apa jangan-jangan bukan karena ga bisa ngomong, tetapi emang si kulit ga mau ngomong? Mungkin juga si kulit diem karena si kulit yang uda kenal sifat si kacang bisa memahami kenapa si kacang begitu. Mungkin juga si kulit udah maafin sikap si kacang yang ngelupain dia. Atau kalo berpikir jelek tentang kulit, mungkin si kulit malah seneng dilupain ama si kacang. Lebih jahatnya lagi, jangan-jangan si kulitlah yang ngebuat si kacang lupa sama dia.

Aku ga pernah tau apa alasan diemnya si kulit atas perilaku si kacang. Hmm, jangan-jangan, si kulit kena amnesia dan lupa juga ma si kacang? Makanya si kulit ga kerasa kalo dilupain ma si kacang.

Sekarang aku mulai berandai-andai yang lain lagi, andai aja si kulit memang dilupakan dan andai aja si kacang emang uda ketemu kulit lainnya. Apa lagi arti kenangan mereka kemarin? Apa yang bakal dilakuin si kulit selanjutnya? Apakah si kulit akan ikut-ikut melupakan si kacang? Atau kah si kulit akan tetap diam menunggu karena diam-diam dalam hati kecilnya, si kulit yakin kalo suatu saat nanti si kacang bakal inget dan kembali ke si kulit?

Apakah suatu hari nanti akan lahir pribahasa:

"Seperti kulit dan kacang yang bertemu lagi karena ada sumur di ladang"?

Intinya si, aku cuma terlintas untuk berpikir bahwa diam tidak selalu emas, diam bisa jadi adalah parang. Coba kalo si kulit yang diem itu ternyata salah paham sama si kacang, ternyata si kacang ngga pernah nglupain si kulit dan si kulit yang terlanjur emosi, marah-marah ma si kacang sambil bawa parang. Atau malahan,, ternyata selama ini si kacang merasa dicuekin ma si kulit dan diem-diem mendendam trus ngedatengin si kulit sambil bawa parang. Hoah!! Jadi serem malahan. Hehe..

Hmm,cerita si kacang dan si kulit malah jadi nglantur kemana-mana dan jadi ga nyambung sama arti pribahasanya ni.. Hehee.. Intinya si,,merasa dilupakan dan sakitnya susah mengingat sebaiknya dikomunikasikan. Siapa tau ada salah paham aja di salah satu pihak. Dari kisah si kulit dan si kacang ini aja sdah bisa dilihat bahwa diamnya si kulit maupun si kacang tanpa ada kejelasan berhasil ngebuat aku berandai-andai, mereka-reka banyak kemungkinan dan kesoktahuan mengenai hal yang telah terjadi di antara mereka. Apalagi di jaman di mana manusia bermanja-manja dan bergantung pada provider kartu telpon seluler, siapa tau si sms atau telpon yang ngga sampe itu, asik-asikan muter-muter melingker-lingker di atas pager dulu baru menuju handphone yang tepat, atau jangan-jangan si pesan komunikasi itu malah tersesat dan ga pernah sampe sehingga memunculkan perpecahan di antara penggunanya. Jangan sampe kenangan yang terjalin indah selama ini hilang membuat tidak lagi menjadi kenangan penting penghibur memori, hanya karena sebuah kesalahpahaman gara-gara tidak lancarnya komunikasi.

Nah, dari perandaian ini aku berharap, semoga si kulit dan si kacang yang berada di seluruh penjuru dunia -apapun bentuknya- bisa berkomunikasi dengan lancar.

Kenangan tidak dapat dibeli, kenangan memiliki harga mahal.

Kenangan akan hilang ketika tidak ada lagi yang mengingatnya.

Jangan sampai harta karun berharga bernama kenangan menghilang karena dilupakan akibat kesalahpahaman dalam komunikasi.

Sabtu, 18 September 2010

Berjalan-jalan ke TK

Masih terekam jelas dalam ingatan ketika aku duduk di bangku TK pertamaku. Hari-hari yang sangat berkesan dari TK ABA WIROBRAJAN adalah ketika aku selalu datang terlambat di hari Sabtu karena sebelum pergi ke sekolah,aku dan keluargaku selalu berenang di kolam renang Umbang Tirto dari pkl. 06.00-09.00. Pelajaran yg sangat aku ingat di TK ini adalah ketika aku diminta memejamkan mata lalu di lidahku ditaruh berbagai zat dengan beraneka rasa, kami para siswa diminta menebak nama rasa tersebut.

Pada TK tingkat Nol Besar, aku dan keluarga pindah rumah ke daerah Wirosaban. Rumah yg sangat luas, mungkin terasa sangat luas karena waktu itu aku begitu kecil. Di rumah baru ini, aku mendapatkan kamar sendiri. Kamar yang saat itu terasa sangat besar -karena entah bagaimana, seiring berjalannya waktu, kamar ini mengalami penyusutan- yang berada di bagian barat dengan sebuah jendela menghadap utara, membuat kamar ini gelap sekaligus selalu sejuk. Di bulan Juli itu, aku berpindah sekolah ke TK ABA KARANGKAJEN. Ingatanku pada masa ini jauh lebih banyak dari pada ketika aku berada di kelas Nol Kecil. Aku masih ingat jelas pelajaran membuat mozaik dari kertas emas warna-warni yang dicocok menggunakan paku, permainan menggunakan lilin (wax), permainan puzzle, hingga pengalaman tak terlupakan sebagai murid baru, memperkenalkan diri di depan semua teman baru sendirian -waktu itu orang tuaku sudah sibuk bekerja, hari pertamaku sekolah di TK asing ini pun aku lalui sendirian- hampir pipis di celana rasanya -apa udah ya-. Di TK ini aku kenal piket bawa gelas ke tempat cucian, aku suka kegiatan ini, biasanya aku piket bareng Chandra -sahabat TKku yg langsung akrab sama aku, aku inget dia punya banyak gantungan kunci di tasnya, ngga tau lagi sekarang dia di mana, tapi aku harap dia baik2 aja- berebutan sama anak2 lain. Biasanya setelah makan snack itu, ada waktu untuk cuci tangan dan gosok gigi. Seru. Hhmm,dari kecil itu pun aku uda suka duduk di depan. Suka merhatiin guru dan bisa dibilang bukan anak yg ribut. Rambutku juga uda panjang dari kecil. Inget bgt dulu aku sering "dijambak" sama temen, namanya Mba Tazsha -entah gimana dia nulis namanya, dia dipanggil mba katena setau aku badannya lebih besar dari pada temen2-, pertama2 aku diem,tapi lama2 sakit. Aku disuruh ibuku ngadu ke guru. Bu guru cuma nasehatin Mba Tazsha seadanya -aku yg waktu itu ngrasa ga adil langsung mikir,pasti gara2 ibunya Mba Tazsha ini juga guru- sampe akhirnya ibu memutuskan untuk mengalah dan rambutku dipotong. Berebut ayunan, luncuran, sampai mainan yg panjat2an,,semua sudah aku rasakan. Dulu ni ya, tiap hari aku ganti gaya rambut, ibu selalu sedia stock karet jepang buat nguncir rambutku tiap pagi. Dari kecil ini juga aku selalu lebih milih sepatu kets daripada pantofel. Sepatu kets kesayanganku adalah sepatu kets yang bisa nyala kalo diinjek yang merknya PRO ATT. Aku juga selalu pake ransel, ga punya tas slempang. Ternyata hal-hal kaya gtu kebawa sampe sekarang -cuma sekarang uda rada ganjen dan uda kenal dunia kerja, jadi sekarang lagi seneng2nya pake hand bag dan heels-. Waktu kecil ini juga, aku selalu dijemput sekolah oleh "mbak"ku naik sepeda. Jadi, pagi pas mau sekolah aku dianter ibu, siangnya dijemput "mbak". Biasanya sambil nunggu jemputan, aku dan si tas ransel, botol minum dan sepatu kets nangkring dengan manis di atas besi panjat2an yg mgkn tingginya 3meter -suka banget duduk di situ, karena dari situ aku bisa ngliat banyak hal dari atas-. Di sepeda jemputan yg sekarang uda rusak diem tertidur di gudang, aku lihat banyak hal waktu pulang sekolah. Pernah suatu saat waktu bengong ngliatin lampu merah -mempertanyakan urutan nyala lampu-, kakiku ga sadar masuk ke jeruji sepeda. Pas itu aku ga pake sepatu,,jadinya lecet deh.. :p

Oya,satu2nya guru TK yg ngajar aku waktu aku belajar di TK ini adalah Bu Rudi, dengan murid2 yg masi aku inget: Luci, Chandra, Aan, Fian, Hanum, Tazsha, Dena, Tyas, Agung, Rosa, Nisa, Gissela, hmm.. Siapa lagi ya? ga terlalu inget juga karena aku murid baru dan ga sempat deket ma semua anak.

Dari kecil juga, aku paling suka pelajaran kesenian -walau aku ga berbakat- tapi seenggaknya pelajaran kesenian cocok sama aku karena pelajaran ini ga ngebosenin.

Oya,kalo ga salah inget,nama kepala sekolahku ini adalah Bu Suti, aku sendiri lumayan akrab dengan beliau, karena sebagai murid baru, beliaulah kenalan pertamaku di TK, dan ga jarang juga kalau aku lama belom dijemput, Bu Suti ngajak aku tunggu jemputan di ruangan beliau. Hmm,,apa kabar beliau ya? Berapa murid yang sudah berkenalan dengan keramahannya? Hebatnya kepala sekolahku.. Mungkin karena pengalaman TK yang menyenangkan ini, makanya uda dari kecil juga aku punya cita-cita jadi guru TK. Aku harap suatu saat akan terjadi.

Acara puncak di TK adalah hiruk pikuk persiapan pelepasan siswa. Semacam pesta kelulusan TK gitu lah. Aku inget banget, waktu acara itu aku pake baju muslim pasangan baju panjang, rompi, dan celana. Warnanya putih, ungu, di kain putihnya ada motif wajik dan bulet warna orange dan hijau. Rasanya bangga banget pegang sertifikat lulus TK dan surat rekomendasi ke SD MUHAMMADIYAH KARANGKAJEN II YOGYAKARTA.


...bersambung...

Jumat, 20 Agustus 2010

KKN: Almost Done



Kamu sangat berarti istimewa di hati selamanya rasa ini...

Jika tua nanti kita t’lah hidup masing-masing ingatlah hari ini...

(Ingatlah Hari Ini – Project Pop)




Di awal pagi hari ini, setelah melakukan sahur, sembari menanti adzan Subuh berkumandang aku berbincang dengan kakak tertua keluarga KKN Keboen 36. Berbicara tentang jadwal penarikan yang kemudian membuat kami berdua tersadar bahwa keberadaan kami di kampung tempat KKN kami ini tak lagi berada dalam hitungan minggu. “Berarti 31 pagi kita, penarikan di kecamatan?”, inilah kalimat pembuka dari pembicaraan kami. “Mbak, berarti tanggal 30 kita uda balikin barang donk? Masa pas di kecamatan kita bawa barang-barang?”,tanyaku pada Mba Nurul, mahasiswi Kedokteran Gigi yang selama ini paling sabar menghadapi tingkah laku adik-adiknya dan paling rajin membereskan kamar. Sambil menatap time table yang dibawa oleh Echa (Sastra Inggris) kami mulai menata jadwal. Gambaran sementaranya adalah sbb:

28 Agustus 2010 : Pembubaran panitia HUT RI-65 & Perpisahan/pamitan dengan warga.

29 Agustus 2010 : Mulai memulangkan barang-barang ke rumah.

30 Agustus 2010 : Memulangkan seluruh barang sekaligus berpamitan dengan pemilik pondokan.

31 Agustus 2010 : Upacara penarikan KKN Wilayah Kecamatan Kraton.



..Kami terdiam, bermain dalam pikiran..
..Mengurai serabut kenangan..



“Mbak, aku masih ga bisa ngebayangin kamar ini nanti kosong lagi”.

Tak bisa aku bayangkan, nantinya satu persatu baju kami harus kami keluarkan dari almari kamar pondokan dan kami kemas dalam koper. Tak bisa aku bayangkan, nantinya semua alat mandi kami di kamar mandi yang selama dua bulan ini memenuhi tembok batu hitam di kamar mandi pondokan ini menghilang dan memenuhi tas-tas besar kami lagi. Dan ketika alas tidur kami pun harus digulung, betapa lengangnya kamar pondokan ini nanti. Semua akan kembali seperti saat-saat awal kedatangan kami, kosong.

Pada awal masa kedatangan kami, kamar pondokan di lantai dua yang tadinya kosong mulai terisi. Satu persatu barang dibawa untuk memenuhi kebutuhan utama kami dalam hierakhi kebutuhan manusia menurut Maslow: kebutuhan fisik. Barang-barang seperti alas tidur, baju, perlatan makan, dan barang-barang lainnya mulai mengisi sudut-sudut kamar. Kami mengeluarkan baju-baju dari dalam koper, kemudian memindahkannya ke dalam almari yang terdapat di kamar pondokan. Alat-alat pendukung tampilan wajah dan badan mulai keluar, alat mandi yang tersusun rapi dalam tas pun dikeluarkan dan dengan segera berbaris rapi di tembok kamar mandi pondokan di lantai satu. Tak ketinggalan juga balkon kamar yang tadinya bersih segera tampak penuh oleh alas kaki kami. Enam manusia asing ini membuat perubahan pada keadaan bangunan lantai satu dan dua di pondokan Keboen 36. Namun, setelah tanggal 30 Agustus 2010 nanti, kamar ini akan kembali seperti sedia kala. Kosong. Semua barang dan manusianya akan pergi bagai embun pagi yang menguap karena ulah panas sinar matahari. Kami berenam beserta barang bawaan akan kembali ke peraduan masing-masing.

Bagai sebuah film yang berjalan, kelebatan ingatan mulai memenuhi pikiranku. Saat awal kedatangan yang sangat mendadak, yang bahkan kami belum memiliki tempat tinggal sebagai pondokan selama dua bulan, kerja sama dari pengurus RT 36 untuk mengusahakan pondokan bagi kami, sempat terjadi perpindahan pondokan dari pondokan semula yang berlokasi di RT 35 ke pondokan Keboen 36 disebabkan oleh ketidaksengajaan bertemu ibu pondokan Keboen 36 yang ternyata belum lama ini ku kenal karena sama-sama bekerja dalam sebuah seminar internasional PAUD di fakultas, sampai kepindahan kami ke pondokan dan langkah awal kami menyusun program. Tampak jelas dalam ingatanku kekikukanku dan teman-teman di awal masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk terbiasa menyapa warga dengan menggunakan Bahasa Jawa Krama. Kami yang belum mengenal siapa-siapa, mulai berusaha berkenalan dan mengingat nama-nama warga. Pertemuan pertama di cakruk dengan pengurus RT, kealpaan dalam mengingat nama, sosialisasi program, dan usaha kami keluar dari cangkang agar dapat mengenal seluk beluk RT lebih jauh. Perjalanan pertama kami mengenal kampung ini dan usaha awal dekat dengan warga yang dimudahkan oleh kegiatan voli di sore hari di pelataran kompleks wisata tamansari, tempat yang nantinya merekam energi dari canda tawa kami selama beberapa waktu dalam kegiatan bercengkrama dengan warga.

Berjalan dipertengahan, banyak program mulai dilakukan. Mulai dari penyuluhan, mural, video profile, pelatihan bahasa asing, penyuluhan gizi dan kesehatan gigi & mulut, dan lain sebagainya, setiap program memberikan kesan tersendiri. Untukku pribadi, pernah pada suatu penyuluhan aku dibuat panik oleh pembicara penyuluhan yang tiba-tiba memberi kabar mengenai pembatalan mengisi acara pada 10 menit terakhir sebelum acara dimulai. Sungguh menegangkan. Selain kejadian itu, masih banyak lagi kejadian-kejadian aneh sekaligus asik ketika menjalankan programpribadi maupun program bantu milik teman seperjuangan. Mengasyikan. Ternyata aku mulai menyukai kegiatan KKN yang tadinya merupakan hal yang menyeramkan untuk dibayangkan.

Kegiatan non-program kami juga banyak. Di antaranya kesenangan menonton konser Bondan Prakoso, menikmati alunan musik Jazz di acara Jazz Mben Senen, nonton Eclipse hingga berkaraoke di “anak anjing gembira”. Tak jarang ketika kami kembali ke pondokan sedikit terlalu malam, kami harus menelepon anggota tertinggal untuk membukakan pintu bagi kami, atau terkadang kami harus menitipkan kendaraan kami di pondokan RT lain. Hal-hal di luar kegiatan formal KKN yang sangat menyenangkan.

Cerita horor mulai beredar, banyak anggota KKN mengalami hal mistis di pondokannya, namun berkat rahmat dari Tuhan aku dan teman pondokanku baru mengalaminya satu kali dan itu hanya berupa bebauan seperti bau singkong bakar. Huiii... cukup menegangkan ketika hal tersebut terjadi. Ketika itu, aku, Mba Nurul, Echa dan Mas Andre (PWK) baru saja pulang rapat dan kemudian bertukar cerita mengenai pengalaman-pengalaman horor teman-teman kami. Dan ketika jam menunjukkan pukul 22.00, aroma singkong bakar tersebar dan langsung membuat kami terdiam, membuat kami memutuskan untuk menyudahi pembicaraan mengerikan.

Peredaran cerita-cerita horor mulai menghilang tergantikan oleh romansa-romansa KKN yang mulai menyeruak ke udara. “Witing tresna, jalaran seka kulina”, peribahasa ini mungkin merupakan dasar teori untuk kejadian manis di KKN ini. Beberapa bertepuk sebelah tangan, beberapa hanya merupakan gurauan. Buktinya saja hingga saat ini belum ada di antara kami yang jadian. Hahaha..

Kembali kepada cerita mengenai warga. Dari kegiatan mural yang merupakan program dari Mas Andre, aku dan teman-teman mulai melihat sosok pemuda kampung yang bernama Jaya dan Ichal. Sering ku lihat mereka di pelataran ketika sore hari, namun aku tidak mengenal mereka. Saat itu aku mengira bahwa mereka adalah pemuda kampung berusia dua puluh tahunan. Ahaha.. Maaf, aku salah mengira. Ternyata mereka masih berusia belia, Jaya masih duduk di kelas 3 tingkat SMA, dan Ichal adalah pemuda yang baru saja lulus dari SMA.

Hingga pada akhir-akhir bulan Juli lalu, kami dipertemukan oleh ketua RT dengan pemuda-pemudi Kampoeng Cyber RT 36 ini dalam acara rapat pembentukan panitia HUT RI ke-65. Dari pertemuan itulah, kami juga mulai mengenal nama lain selain Amna & Opal (putri pertama dan putra kedua keluarga Keboen 36), Jaya, dan Ichal. Kami mulai mengenal Bunga, Dhimas, Ali (warga di paguyuban 37-38) dan Meka (warga RT 35). Mereka adalah anak-anak yang menyenangkan yang memiliki sifat khas remaja, suka bercanda. Mereka sudah kami anggap adik kami sendiri. Mereka mudah akrab dan terbuka pada kami, kecuali Jaya yang masih terkesan “jauh”. :p

Seiring bertambahnya intensitas bertemu warga melalui program, permainan lapangan dan rapat HUT RI, semakin dekat pula lah jarak di antara kami. Antara warga KKN dengan warga asli RT 36. Kedekatan tersebut terasa menyenangkan, kami tidak lagi merasa sebagai orang asing. Kami semua senang dan betah. Aku saja yang tadinya berpikiran “harus menghabiskan jatah pulang sebanyak 5x24 jam” mulai berganti pemikiran menjadi “bagaimana caranya pulang seminimal mungkin”. Hehe.. Mungkin hal tersebut akan aneh jika mahasiswa KKN unit lainnya mengetahui, namun begitulah adanya. Bahkan, di antara kami berenam, terdapat tiga anak yang belum pernah sama sekali menggunakan jatah pulangnya, ialah Arby (Arkeologi) Sang Kormasit, Adit (Komunikasi) dan Echa. Sedangkan aku dan Mba Nurul pernah menggunakannya satu malam dan Mas Andre beberapa malam demi mengejar target skripsinya. Kami senang berada di sini.

Namun pagi ini, setelah menghitung tanggal penarikan, aku menjadi tersadar, waktu kami tak akan lama lagi. Nanti setelah tanggal 31 Agustus 2010, tidak akan ada lagi keramaian di lantai dua yang disebabkan kehebohan teman-teman bermain poker bersama Ali, Jaya dan Ichal. Tidak ada lagi kehebohan bersembunyi dari rapat, yang dilakukan Ichal, Amna, dan Bunga. Tidak ada lagi canda tawa dan tangis menangis karena menonton film bersama, antara kami berenam dengan para pemuda-pemudi Kampoeng Cyber ini. Bahkan tidak akan ada lagi acara bermain permainan lapangan bersama warga, baik anak-anak, pemuda-pemudi, atau pun dengan bapak- bapak dan juga ibu-ibu. Tidak ada lagi. Dan kalau pun ada, intensitasnya akan sangat sedikit.

Peristiwa seperti takut anjing, jadwal piket mencuci dan menyapu, hom-pim-pah untuk menentukan urutan mandi, jalan-jalan pagi, rutinitas mengambil catering yang semenjak bulan Ramadhan berubah menjadi hanya satu kali sehari ketika sahur dan bertambah menjadi kerepotan menentukan menu ketika waktu berbuka puasa tiba, canda tangis, “ngambek”, marah dan senang, semua akan berlalu. Enam manusia ini akan kembali pada habitatnya masing-masing.

Ingin ku persembahkan KKN manis ini bagi Anda semua warga 36. Pak Hery, Mas Koko, Pak Bonar, Pak Rudi, Mba Titik, Mba Ira, Pak Tatang, Pak Rujito, Mba Mus, Bu Sar, Pak Sar, Mba Tanti, Bu Tin, Bu Nur, Pak Giman, Mba Muji, Mba Dewi, Pak Agung, Pak Dedy, Pak Geong, Bung Giman, Mas Acun, Mba Wiwin, Pak Sukir, Bu Sukir, Pak Iwan, Pak Eko, Mba Haryani, Mba Yah, Mas Uli, Bu W, Pak W, Bunga, Bangkid, Bery, Venda, Oda, Reang, Rega, Nanda, Alan, Putra, Farel, Aji, Dony, Fian, Noel, Nara, Shiva, Diva, Rahma, Dimas, Aldi, dan warga yang lain yang karena saking banyaknya aku menjadi mulai bingung untuk menuliskannya. Dan tentunya KKN ini aku persembahkan teruntuk keluargaku selama di kampung ini, keluarga Keboen 36, Ibu Lot, Pak Surur, Mba Pipin, Amna, Opal, Ayud, Ovan, dan Mba Endang. Juga untuk adik-adik yang sudah seperti adik laki-lakiku, Jaya dan Ichal. Mungkin apa yang aku dan teman-temanku berikan belum lah sesempurna yang kalian harapkan, tapi percayalah, dari lubuk hati kami yang terdalam, kami selalu ingin memberikan hal-hal terbaik yang dapat kami berikan. Kami ingin memberikan manfaat atas keberadaan kami selama dua bulan di RT 36 ini, keberadaan yang telah banyak merepotkan kalian. Mungkin nanti, lima atau sepuluh tahun lagi nama kami tak lagi diingat, namun ketahuilah, jasa besar segenap warga Kampoeng Cyber RT 36 ini dalam membesarkan dan memberikan ilmu lebih kepada kami, tak akan pernah kami lupakan. Akan selalu terukir dalam batu karang terbesar di samudra hati kami. Terima kasih untuk hidangan sosial yang menyegarkan, terima kasih atas rasa bangga karena kami pernah menjadi warga sementara kampung yang indah ini, terima kasih atas izin yang telah diberikan kepada kami untuk dapat turut serta menggunakan seragam merah kebanggaan RT 36. Dan tak lupa, izinkan kami meminta maaf untuk segala kesalahan yang tidak sengaja kami perbuat, selama kami menimba ilmu dari warga RT 36, RW 9, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta ini. Maafkan kami. :')



Untukmu keluargaku Subunit 3 di Unit 91, keluarga lantai dua Keboen 36, Mba Nurul, Mas Andre, Arby, Adit, dan Echa, I’m so GLAD to have you in a short time. You will always be my best PART in my life. Keluarga tidak hanya dipersatukan oleh ikatan darah, namun oleh cinta. I love You,brothers and sisters.. I already miss you..




...Jika tua nanti kita t’lah hidup masing-masing, ingatlah hari ini...





“Maafin aku untuk sikap-sikapku yang menyebalkan ya.. Hehe.. Terima kasih untuk lautan pengertian kalian yang kalian berikan ke aku. Terima kasih untuk kekompakan dan kerja sama kita selama hampir dua bulan ini. Nanti kita main-main lagi ya, main-main juga ke Tamansari bareng-bareng”.


Kamis, 12 Agustus 2010

Keluarga Lantai 2 Keboen 36

Dipertemukan oleh takdir Tuhan, enam anak manusia yang sedang berusaha memenuhi kewajiban memenuhi tugas kuliah dipersatukan di bawah langit-langit rumah yang dikenal dengan nama Keboen 36. Mereka lah Nurul Amina, Andryan Wikrawardana, Arba'atun Nashikin, Aditya Kurniawan Saputra, Eka Wahyuni dan Isya Primaruti. Berasal dari backround studi yang berbeda, enam warga baru di wilayah RT 36, RW 9, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta ini bersatu padu dan berjuang keras untuk beradaptasi antara satu dengan yang lainnya. Inilah mahasiswa kebanggaan Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Teknik - Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Ilmu Budaya - Arkeologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik - Komunikasi, Fakultas Ilmu Budaya - Sastra Inggris dan Fakultas Psikologi yang sedang berusaha memenuhi segala persyaratan KKN demi mengisi nilai pada Kartu Hasil Studi sebesar 3 SKS.


Aku, Isya Primaruti.
Pada awalnya aku masih sangat bergantung dengan teman-teman satu fakultasku, ada 4 orang lainnya selain aku dalam unit ini. Namun kini, ketika aku mulai dekat, mulai merasa sangat betah dengan lingkungan KKN ini, aku dihadapkan dengan kenyataan keinginan subunit-subunit lainnya untuk segera kembali ke peraduan mereka masing-masing. Tak berdaya aku melawan keinginan banyak orang, terpaksa mengikuti keadaan, kenyataan penarikan tanggal 31 Agustus dan saat kepulangan tanggal 24 Agustus terus membayang. Tak ingin beranjak dari pondokan yang selalu ramai, dengan suasana kampung yang sangat menjunjung tinggi nilai kegotong royongan dan keguyuban, berpisah dengan saudara seperjuangan yang sudah tinggal bersama hampir 2 bulan. Kesedihan menggantung di pelupuk mata. Tak kuasa aku berpisah dengan 5 orang lainnya yang sudah kuanggap saudara dan keluarga.


Setiap kebiasaan terekam dalam kenangan. ketika pagi hari menyingsing, Mas Andre gembul atau terkadang Adit Batubara atau pun Arby si kormasit berlomba-lomba membangunkan kami tiga wanita. Kebiasaan makan pagi dan makan malam bersama yang selalu diambilkan oleh kormasit dan pasangannya di tempat catering, kebiasaan hom-pim-pah mencari urutan mandi dari yang paling pertama karena kami semua tidak ada yang berkeinginan mandi pertama, jadwal piket mencuci alat makan, menyapu dan membuang sampah, sampai tempat parkir alas kaki yang hanya bertahan sementara saja. Kebiasaan sang kormasit dan sekertarisnya untuk mengisi kantong air penyambung kehidupan yang jika meleset dan tumpah ke lantai akan mengakibatkan teguran halus dari pemilik pondokan. Tak akan terulang lagi hari-hari itu. Setiap waktu memiliki kenangan khususnya. Tiap karakter yang berbeda juga mewarnai hari-hari di lantai 2 keboen 36. Sangat berkesan, tak akan aku lupakan.


Tidak hanya keluarga di subunit, warga kampung RT 36 juga turut menggoreskan kenangan tersendiri. Keramahan dan keterbukaan mereka menerima subunit ini membuatku merasa sangat diterima. Segala hal menjadi lebih mudah. Kewajiban membuat program yang pada awalnya terasa berat berubah menjadi ringan. Warga yang sangat antusias dan segala kemudahan aksesnya membuat aku dan bahkan kami semua di subunit 3 ini bersemangat. berkat kampung ini juga lah, aku merasakan perasaan bangga menjadi panitia HUT RI, merasakan hiruk pikuk ramadhan dan sebagainya. Aku belajar bersosialisasi lebih dekat dengan tetangga..


Tangis, marah, canda, tawa, semua telah aku alami.
Tak sekali pun aku menyesali.
Semua akan terus tersimpan dalam kenangan diri.
Terpotret abadi dalam sudut hati.